Kunjungi BPPTKG, Komisi VII DPR RI dan Kepala BNPB Lihat Langsung Monitoring Merapi


Kenaikan tingkat aktivitas Gunung Merapi dari Waspada (Level II) ke Siaga (Level III) telah mengundang perhatian para pengambil keputusan tinggi di Indonesia. Kamis (19/11/20) Komisi VII DPR RI yang diketuai oleh Ir. Bambang Wuryanto, MBA mengunjungi BPPTKG di Yogyakarta dalam rangka memperoleh data dan informasi tentang mitigasi bencana Gunung Merapi. 


Hal ini bersamaan dengan kunjungan Kepala BNPB Doni Monardo yang didampingi oleh Danrem 072/Pamungkas, segenap deputi BNPB, Basarnas, dan perwakilan dari BPBD DIY, dan BPBD Sleman. Doni menyampaikan bahwa kunjungannya kali ini untuk melihat perkembangan dan mendapat informasi arah ancaman dan dampak erupsi Gunung Merapi. 

Kunjungan diterima oleh Kepala Badan Geologi, Eko Budi Lelono yang didampingi oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kasbani, dan Kepala BPPTKG, Hanik Humaida. Eko menjelaskan bahwa Gunung Merapi merupakan gunung api aktif yang terkenal di dunia karena tipe erupsinya yang khas. Gunung Merapi tercatat pernah meletus dahsyat pada tahun 1872 dan 2010, dan keduanya memiliki kemiripan baik saat erupsi maupun pasca erupsi. 

Mengenai aktivitas Merapi saat ini, Eko mengungkapkan bahwa “Saat ini kubah lava belum muncul, karakteristik tingkat kegempaan, dan visual mengarah ke (tipe) erupsi (tahun) 2006”. Eko juga tidak menutup kemungkinan bahwa erupsi kali ini akan tidak terduga, namun berdasarkan data-data yang ada, erupsi kali ini akan mengikuti erupsi efusif di tahun 2006 dimana terjadi pertumbuhan kubah lava yang disertai terjadinya awan panas. 

Dalam sambutannya, Eko mengungkapkan bahwa Badan Geologi melalui PVMBG-BPPTKG telah merilis peta prakiraan rawan bencana dengan mempertimbangkan kekuatan erupsi dan pemukiman di sekitar Gunung Merapi. Daerah rawan bencana diperkirakan dalam radius maksimal 5 km dari puncak Merapi. 


“Karena kami (Badan Geologi) berada di hulu, kami membutuhkan pihak-pihak lain untuk menindaklanjuti, sehingga kami senantiasa melakukan koordinasi. Diantaranya berkoordinasi dengan BNPB, BPBD lingkar Merapi, dan pemerintah daerah, sehingga bisa menyiapkan langkah-langkah antisipasi saat terjadi erupsi,” lanjutnya. 
 
Pada kesempatan ini, Hanik memaparkan tentang alasan kenaikan status aktivitas Merapi dari Waspada ke Siaga, aktivitas Merapi terkini, dasar penyusunan prakiraan bahaya, serta langkah-langkah kesiapsiagaan BPPTKG saat status Siaga. 

“Skenario bahaya yang perlu diantisipasi adalah skenario bahaya terburuk sesuai dalam Rencana Kontijensi BPBD lingkar Merapi dengan skenario antara prakiraan bahaya status Siaga yang saat ini diterapkan,” ungkap Hanik saat menjelaskan skenario bahaya saat ini. 

Hanik menyimpulkan bahwa berdasarkan data-data pemantauan, apabila terjadi erupsi eksplosif, maka kemungkinan tidak sebesar erupsi tahun 2010. Hanik juga menyoroti banyaknya berita yang beredar namun tidak jelas sumbernya sehingga dapat menimbulkan keresahan publik. Hanik mengimbau masyarakat untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah setempat dan tidak terpengaruh dengan berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. 

Pada kunjungan ini, Bambang dan Doni mengapresiasi kinerja Badan Geologi-PVMBG-BPPTKG dalam mitigasi bencana geologi yang terjadi di Indonesia. Acara dilanjutkan dengan mengunjungi ruang monitoring Merapi yang berada di BPPTKG untuk melihat langsung data saat ini dan bagaimana BPPTKG bekerja memantau Merapi. 

#BPPTKG
#AktivitasMerapi
#MerapiSiaga