Resume Webinar "Narasi Ketangguhan Warga Merapi"

Rabu, 28 Oktober 2020
 
‘Bencana Terjadi Saat Manusia Lengah’

Bencana terjadi saat manusia lengah. Tampaknya hal itu bisa menjadi benang merah dalam acara Webinar Seri 2 Peringatan 10 Tahun Erupsi Merapi pada Rabu, 28 Oktober 2020 yang bertajuk ‘Narasi Ketangguhan Warga Merapi’. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) periode 2013-2015, Muhammad Hendrasto yang hadir sebagai salah satu panelis dalam acara yang digelar secara daring tersebut.

Bagaimana pun bencana merupakan kehendak alam, ia tidak dapat dicegah dan juga tidak dapat dihindari. Kecuali bencana yang memang diakibatkan oleh perilaku manusia sendiri. Namun, dampak dari bencana dapat diminimalisir sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.

“Sehingga yang paling penting adalah bagaimana penyiapan kesiagaan masyarakat dan mitigasinya,” tandasnya.
Hal – hal ini pula yang terus dilakukan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta. Berbagai program digelar untuk membangun kesiapsiagaan warga yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Merapi.

Salah satunya dengan menggelar program Wajib Latih Penanggulangan Bencana (WLPB) yang menjadi salah satu upaya dalam rangka mengurangi risiko bencana erupsi merapi. Ini merupakan konsep alternatif yang digelar secara berkesinambungan sebagai instrumen rekayasa sosial untuk membentuk masyarakat yang berbudaya siaga bencana.

"Yang paling utama adalah bagaimana membumikan wajib latih ini," kata Staf Seksi Gunung Merapi BPPTKG, Dewi Sri Sayudi yang menjadi salah satu narasumber webinar.

Dalam praktiknya, tambah Dewi, WLPB diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan potensi bencana, meningkatkan kesadaran risiko bencana, serta meningkatkan keterampilan masyarakat untuk melindungi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Program ini bersifat wajib bagi warga yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) dan bersifat sukarela bagi warga yang berada di luar KRB. Selama pelaksanaan program, para peserta diajak untuk berpartisipasi dalam forum yang sifatnya terbuka terhadap ide-ide lainnya. “Jadi bukan seperti didoktrin, di sini sangat terbuka,” tambahnya.

Hasil akhir dari WLPB ini antara lain warga di KRB memiliki pengetahuan dasar dan keterampilan dalam menyelamatkan diri dan aset-asetnya dari ancaman letusan maupun lahar dingin. Warga juga diarahkan untuk memiliki pengetahuan dalam memahami konsep pengurangan risiko bencana berikut kemampuan dalam menemukan dan mengenali faktor-faktor risiko bencana.
Di masa pandemi seperti sekarang ini, WLPB juga tetap dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Menurut Dewi, bahkan selama ini sebagian besar permintaan datang dari warga untuk menggelar acara serupa di tempat mereka dengan syarat-syarat tertentu semisal tidak melibatkan terlalu banyak orang.

“Di tahun 2020 ini, kami gelar WLPB hingga ke tingkat dusun dengan mengedepankan protokol kesehatan,” tambahnya.
Langkah ini diamini pula oleh Staf Pengajar Fakultas Geografi UGM, Estuning Tyas Wulan Mei. Menurut dia, upaya pengurangan risiko bencana memang sebaiknya dihasilkan dari kesepakatan bersama yang dilakukan secara partisipatif. “Jadi, warga memiliki hasil dari kesepakatan itu sendiri,” Kata Estuning yang juga menjadi narasumber acara webinar.
Jangan sampai nantinya ada pihak yang merasa dirugikan. Untuk itu, tambahnya, tepat kiranya beberapa upaya evakuasi misalnya atau rencana evakuasi disepakati di level yang paling kecil. Misalkan di tingkat dusun atau pun level di bawahnya.

“Jangan sampai ada penolakan dari warga misalkan untuk dievakuasi,” Jelasnya.
Estu juga mengingatkan bahwa masa pandemi ini memang memberikan tantangan tersendiri lantaran upaya-upaya penguatan kesiapsiagaan bencana maupun dalam penanganan bencana itu sendiri harus dengan memperhatikan protokol kesehatan. Menurut dia, jangan sampai tempat pengungsian nantinya justru menjadi klaster baru penyebaran covid-19 yang menambah sulitnya upaya penanganan bencana.

Kuncinya, berada pada pemangku kebijakan untuk bisa mempersiapkan tenaga-tenaga di lapangan yang memastikan bahwa semua pengungsi telah menerapkan protokol kesehatan. Semisal aplikasi 3M yang meliputi masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Ini perlu diimbangi pula oleh para petugas di lapangan dengan menerapkan strategi 3T yakni tracing, testing dan treatment.
“Hal lainnya tentu saja masalah sanitasi lingkungan dan ketersediaan pangan,” tambahnya.
 
Penilaian Ketangguhan Desa
Senada, Direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno yang juga menjadi narasumber webinar ini menekankan pentingnya Penilaian Ketangguhan Desa. Assesement ini mencakup penilaian terhadap kualitas dan akses layanan dasar semisal pendidikan, kesehatan, transportasi, layanan publik dan sistem informasi. Penilaian kedua, yakni tentang dasar sistem penanggulan bencana yang berkaitan dengan kajian, kebijakan maupun regulasi terkait kawasan rawan bencana. Ketiga, bagaimana pengelolaan risiko bencana yang meliputi aksi terpadu pengurangan risiko bencana dan penguatan kapasitas kebencanaan. Keempat, penilaian terhadap kesiapsiagaan darurat yang meliputi deteksi dini hingga rencana evakuasi. Serta yang kelima penilaian terhadap kesiapsiagaan pemulihan yang erat kaitannya dengan langkah-langkah dan mekanisme rencana pemulihan aset strategis.

“Nah, di Sleman contohnya, rata-rata relatif baik,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari upaya mempersiapkan bencana selanjutnya, Eko memberikan rekomendasi agar dibuat mekanisme komunikasi antara masyarakat dengan pihak penydia layanan peringatan dini, juga perlu dipersiapkan secara optimal mengenai penyiapan peralatan penerima peringatan ancaman yang bisa digunakan oleh masyarakat setiap saat.
Warga juga dapat membentuk organisasi relawan dengan penguatan pada sisi legalitas semisal di tingkat desa. Sehingga mereka dapat melaksanakan latihan berala dalam kegiatan di setiap tahapan penanggulangan bencana.
"Yang paling penting, tidak lengah, dan tidak lupa 3M dan 3T," tandasnya.

Letusan 2010 yang Memberikan Banyak Pelajaran
Adapun baik narasumber maupun panelis dalam acara webinar ini sepakat bahwa letusan merapi tahun 2010 lalu memang memberikan banyak pelajaran. Baik itu pada soal kesiapsiagaan hingga pada penanggulangan bencana. Menurut Estuning, masyarakat maupun otoritas pemangku kepentingan sudah memperlihatkan upaya yang semakin baik dalam menghadapi ancaman di masa mendatang. Eko pun mengamini dengan menyebutkan bahwa masyarakat di sekitar Gunung Merapi masih memiliki energi yang cukup dalam menghadapi tantangan yang ada di depan mata.

Namun Kepala BPPTKG Yogyakarta periode 2007-2015, Subandriyo yang hadir sebagai panelis memberikan catatan penting selama penanggulangan bencana erupsi merapi tahun 2010 lalu.

Di antaranya harus ada alternatif-alternatif skenario penanggulangan bencana. Tidak seperti pada tahun 2010 yang hanya menerapkan skenario tunggal. Namun perlu menyisakan ruang lainnya untuk skenario-skenario yang kemungkinan bisa terjadi.
Ia juga menyinggung masalah sistem peringatan dini yang harus managable. Jangan sampai, peringatan dini diberikan terlalu cepat, atau justru terlalu lambat. Lantaran keduanya memiliki konsekuensi yang sangat besar. Sehingga pengambil keputusan harus benar-benar mendasarkan diri pada berbagai instrumen-instrumen pengukuran yang tersedia. “Jangan sampai mendasarkan pada satu parameter saja,” tambahnya.

Dalam hal komunikasi, baik Subandriyo maupun Muhammad Hendrasto sepakat pentingnya komunikasi yang efektif. Informasi, menurut Subandriyo harus mampu menjangkau titik-titik yang diperkirakan sangat rawan. Pengalaman tahun 2010 lalu membuktikan bahwa hal ini belum terlaksana secara maksimal. Buktinya meskipun pelatihan-pelatihan sudah dilaksanakan sebaik mungkin, namun dirinya mengaku bahwa sistematika dan targetnya belum benar-benar mengacu pada analisis risiko dan assesement.

“Dulu meskipun peringatan dini sudah disampaikan secara bagus, namun kenyataannya masih timbul korban yang tak sedikit. Jadi waktu itu saya kira informasi yang kita sampaikan barangkali tidak terlalu efektif pada titik yang paling krusial,” tutupnya. (*)
 
Tentang Acara Peringatan Dasawarsa Erupsi Merapi 2010
Peringatan 10 tahun erupsi Merapi yang bertajuk “Refleksi Erupsi 2010 di Masa Pandemi” ini menjadi media untuk meningkatkan kapasitas mitigasi bencana erupsi Gunung Merapi. Acara ini diisi dengan berbagai kegiatan antara lain Webinar, Jagongan Virtual Merapi, Virtual Open house, Talkshow, serta Lomba Tiktok Dasa Warsa Merapi. Acara yang digelar secara virtual ini dimulai pada 26 Oktober 2020 hingga 4 November 2020. Seluruh agenda kegiatan dapat disimak melalui laman https://dasawarsamerapi.id . (*)