Membaca Tanda dari Merapi

Resume Webinar 27 Oktober 2020
 
Sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, Gunung Merapi hingga kini terus menunjukkan aktivitasnya. Ia tetap ‘terjaga’ pascaletusan besar pada tahun 2010 silam. Bahkan berdasarkan data-data pemantauan beberapa waktu belakangan ini, Gunung Merapi diperkirakan akan mengalami fase erupsi kembali dalam waktu yang tidak lama lagi.

Masyarakat di sekitar lereng Merapi kerap kali menyebutnya dengan sebutan ‘Duwe Gawe’ untuk menggambarkan kondisi Merapi yang sedang aktif. Istilah ini sebenarnya kerap dilekatkan dengan sebuah aktivitas semisal hajatan, di mana tuan rumah sedang mempersiapkan diri untuk menggelar kegiatan besar. Tentu kondisinya terlihat lebih sibuk dari biasanya. Namun itu hanya istilah saja, yang berangkat dari kearifan lokal masyarakat setempat. Bagaimana dalam konteks keilmuan?

Pertanyaan itu terjawab dalam seri webinar dalam rangkaian acara Peringatan 10 Tahun Erupsi Merapi yang digelar secara daring pada Selasa (27/10/2020). Dalam webinar bertajuk ‘Menerjemahkan Data Merapi’ ini, dihadirkan empat orang narasumber utama meliputi Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santoso, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat PVMBG, Akhmad Solikhin, Staf Pengajar Fakultas Teknologi dan Ilmu Kebumian ITB, Asep Saepulloh serta Staf Pengajar Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Agung Harijoko.

Dalam paparan yang disampaikan Agus Budi Santoso, diketahui bahwa Gunung Merapi saat ini memang menunjukkan tanda-tanda menuju erupsi. Meski begitu, ia menggarisbawahi bahwa kekuatan letusannya diperkirakan tidak akan seperti letusan eksplosif tahun 2010, melainkan lebih cenderung mirip letusan tahun 2006 lalu dengan sifat letusan yang efusif.

“Memang ada probabilitas mengalami erupsi dalam waktu dekat ini. Tapi kecenderungannya akan mengikuti letusan tahun 2006, bukan tahun 2010 yang eksplosif,” ungkapnya.

Sebagai informasi, berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI), kekuatan letusan Gunung Merapi tahun 2010 mencapai skala 4. Ini merupakan letusan terbesar dalam sejarah Merapi. Letusan dengan skala VEI yang sama, pernah terjadi pada tahun 1872 silam. Sementara letusan Gunung Merapi tahun 2006, tercatat memiliki skala VEI 2.

Agus menyebutkan tipe letusan tahun 2010 dan 1872 ini disebut sebagai letusan Sub-Plinian.
“Jadi mirip antara letusan tahun 1872 dan letusan tahun 2010,” katanya.

Kemiripan itu antara lain dilihat dari tipe letusan yang mencapai skala VEI 4, kedua memiliki jangkauan awan panas lebih dari 15 kilometer, ketiga dicirikan dengan letusan eksplosif besar, keempat membentuk kawah yang cukup dalam yakni pada tahun 2010 terbentuk kawah sedalam 15 meter, sementara tahun 1872 terbentuk kawah sedalam 170 meter.
Selain kemiripan dari tipe letusannya, letusan tahun 2010 dan 1872 juga memiliki kesamaan kronologi pascaletusan. Yakni dengan adanya aktivitas berupa letusan freatik.

“Berdasarkan data-data pemantauan, ini lebih mirip ke erupsi 2006. Peningkatannya lebih landai dan pelan daripada tahun 2010. Kesimpulannya, bahwa berdasarkan data pemantauan memang saat ini menunjukan adanya migrasi magma, ada peningkatan. Ada probabilitas aktivitas yang meningkat ini akan berlanjut ke erupsi,” jelasnya.
Namun dirinya mengingatkan bahwa letusan efusif ini tidak akan serta merta membahayakan penduduk. Ini akan menjadi berbahaya jika terjadi guguran yang memicu adanya awan panas. Sehingga dengan demikian, masyarakat tidak harus panik namun tetap harus waspada. Serta mengikuti semua arahan dari otoritas yang menangani Gunung Merapi maupun pemerintahan daerah setempat.

Terlebih, kini otoritas kegunungapian sudah memiliki teknologi pemantauan Gunung Api yang lebih canggih. Salah satunya seperti yang dipaparkan Akhmad Solkhin dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi ESDM.
 
Teknologi Remote Sensing
Teknologi yang dimaksud adalah dengan remote sensing atau penginderaan jarak jauh.
Teknologi pengideraan jarak jauh melalui citra radar ini dapat digunakan untuk mengukur deformasi dan degasing atau pelepasan gas yang keluar dari kubah lava. Teknologi ini dapat juga digunakan untuk pemantauan kubah, menghitung dampak erupsi, sebaran lava, aliran lava, serta pemetaan dampak dari sebaran material erupsi gunung Merapi.
Menurut dia, cara ini sangat relevan digunakan di masa pandemi seperti sekarang.

“Pada saat erupsi, remote sensing dapat mendukung data-data di lapangan, semisal dari EDM. Apalagi jika kondisinya sangat berbahaya untuk dilakukan penelitian langsung di lapangan. nah citra satelit ini bisa digunakan terutama di masa pandemi ini yang bisa jadi tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama,” urainya.
Dengan begitu, teknologi penginderaan jarak jauh juga memainkan peranan penting dalam upaya mitigasi bencana erupsi Gunung Merapi.

Penggunaan teknologi jarak jauh ini pernah digunakan secara intens untuk mengobservasi perilaku Merapi dalam kurun waktu tahun 1996 hingga 2010. Hal ini dijelaskan oleh Staf Pengajar Fakultas Teknologi dan Ilmu Kebumian ITB, Asep Saepulloh yang juga menjadi narasumber webinar.

Pada tahun 1996, ia menggunakan dua jenis radar yakni JERS-1 dan Radarsat-1, Kemudian ditambah satu lagi pada tahun 2010 yakni radar Alos Palsar. Data-data yang diperoleh melalui pencitraan radar ini sangat berguna untuk mengetahui volume awan panas, sebaran serta jarak luncur awan piroklastik. Sebagaimana diketahui, para korban letusan Gunung Merapi tahun 2010 hampir semuanya meninggal akibat terjangan awan panas atau wedhus gembel. Sehingga data-data tersebut memainkan peranan sangat penting dalam upaya meminimalisir dampak letusan.

“Data radar ini memiliki kelebihan terutama untuk diaplikasikan di daerah tropis. Karena dapat menembus awan maupun vegetasi sehingga bisa mengakses permukaan tanah,” tambahnya.

Prinsipnya, tambah Asep, dengan menggunakan data radar maka pihaknya dapat mendeteksi potensi sebaran maupun jarak luncur awan piroklastik dengan cara membandingkan data sebelum dan sesudah letusan. Dari perbedaan data inilah kemudian dapat diperoleh informasi mengenai sebaran piroklastik. Termasuk di antaranya sebaran awan piroklastik hasil erupsi dahsyat Merapi di tahun 2010.

“Letusan Merapi tahun 2010 itu sesuatu yang luar biasa, sangat dahsyat baik dari sisi kemanusiaan maupun dari sisi keilmuan,” tandasnya.

Oleh karena itu dirinya yakin dengan begitu banyaknya pengalaman dan pelajaran dari erupsi sebelumnya serta didukung oleh teknologi kegunungapian yang semakin canggih, maka upaya mitigasi bencana pun tentunya akan semakin baik.
 
Gunung Merapi Miliki Lebih Dari Satu Kantung Magma
Sementara itu, Agung Harijoko yang menjadi narasumber acara webinar ini banyak mengulas tentang aktivitas magmatis Gunung Merapi. Ia menyebutkan bahwa kecil kemungkinan Gunung Merapi mengalami letusan eksplosif dalam waktu dekat ini. Melainkan akan mengikuti letusan efusif seperti di tahun 2006. "Kalau dari pemantauan yang ada, sepertinya lebih mirip ke 2006 daripada 2010," katanya.

Selain itu, jika dilihat dari sejarah letusannya, diketahui bahwa letusan eksplosif tahun 1872 kemudian diikuti dengan letusan efusif. Letusan tahun 2010 pun, cenderung diikuti letusan efusif.

"Saya kira erupsi ekplosif ini akan ada perulangan untuk periode waktu yang lebih panjang. Sementara periode pendek akan efusif," jelasnya.

Dalam presentasinya Agung juga mengungkap mengenai kantung magma Gunung Merapi. Menurut dia Merapi memiliki lebih dari satu kantung magma.

Ini diperoleh berdasarkan analisis terhadap tipe inklusi batuan beku Gunung Merapi yang menunjukkan data bahwa magma yang dihasilkan dari Merapi ini berasal dari multiple magma storage. “Jadi di bawah Merapi ini tidak hanya ada satu kantung magma, tapi mungkin ada beberapa kantung-kantung magma yang memiliki tingkat kristalisasi yang berbeda-beda,” jelasnya.
Dengan analisis komposisi kimia mineral, diketahui proses kristalisasi di Merapi terjadi di kedalaman yang berbeda-beda dengan rentang kedalaman 2-45 kilometer. Namun proses itu mayoritas terjadi di kedalaman menengah dan dalam sekitar 12-18 kilometer.

Lantas berapa lama akumulasi magma terjadi di Merapi hingga mencapai tahap erupsi? Agung menyebutkan bahwa Gunung Merapi memiliki estimasi residence time sebesar 1-53 tahun untuk minimum estimasi dan 13 - 528 tahun untuk maksimum estimasi.

“Saat ini, berdasarkan pengamatan, kita sekarang berada pada tahap suplay magma, baru dari dapur magma. Dan kita tinggal menunggu waktu apakah akan ada ekstruksi magma di permukaan atau tidak. Untuk itu kesiagaan masyarakat menjadi sangat penting,” tutupnya.
 
Tentang Acara Peringatan Dasawarsa Erupsi Merapi 2010
Peringatan 10 tahun erupsi Merapi yang bertajuk “Refleksi Erupsi 2010 di Masa Pandemi” ini menjadi media untuk meningkatkan kapasitas mitigasi bencana erupsi Gunung Merapi. Acara ini diisi dengan berbagai kegiatan antara lain Webinar, Jagongan Virtual Merapi, Virtual Open house, Talkshow, serta Lomba Tiktok Dasa Warsa Merapi. Acara yang digelar secara virtual ini dimulai pada 26 Oktober 2020 hingga 4 November 2020. Seluruh agenda kegiatan dapat disimak melalui laman https://dasawarsamerapi.id .(*)