Diskusi Merawat Ketangguhan Warga Merapi

Tepat satu tahun yang lalu, 21 Mei 2018, tingkat aktivitas Merapi ditingkatkan menjadi Waspada setelah terjadi erupsi freatik beruntun yang dimulai pada tanggal 11 Mei 2018 disertai munculnya gempa tremor. Seiring dengan peningkatan tingkat aktivitas ini, BPPTKG merekomendasikan agar tidak ada aktivitas manusia di dalam radius 3 km dari puncak. Dinamika aktivitas Gunung Merapi yang naik satu tingkat ini secara tidak langsung berdampak pada penghidupan masyarakat yang menempati Kawasan Rawan Bencana III.
 
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sebagai bagaian dari satuan kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berinisiatif untuk menyelenggarakan diskusi publik bertema “Merawat Ketangguhan Warga Merapi” pada Selasa (21/5/2019). Acara ini dihadiri oleh warga masyarakat lereng Merapi, pemangku kepentingan penanggulangan bencana di D.I. Yogyakarta, Dinas Pariwisata Kab. Sleman, tokoh masyarakat, akademisi, Basarnas, dan komunitas pemerhati Merapi.
    
Diskusi interaktif menghadirkan Kepala BPPTKG, Dr. Hanik Humaida; Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Drs. Joko Supriyanto, M.Si; geolog dan vulkanolog dari Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM, Dr. Agung Harijoko; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra. Sudarningsih, M.Si; dan Kepala Pusat Studi Menejemen Bencana UPNV YK, Dr Eko Teguh Paripurna. Para narasumber memaparkan pengalaman dan upaya-upaya untuk merawat dan membangun ketangguhan warga Merapi untuk menghadapi krisis, selain itu disampaikan strategi dalam menghadapi libur lebaran dan akhir semester bagi siswa sekolah.
   
Pada kesempatan ini, Agung Harijoko selaku wakil dari akademisi berpendapat penanganan mitigasi bencana apapun memerlukan komunikasi antar pemangku kepentingan agar tidak menyebabkan informasi yang simpang siur. Agung juga mendorong para akademisi untuk berhimpun di BPPTKG, sehingga jika ada masukan dan pendapat bisa langsung disampaikan ke BPPTKG. Hal senada juga disampaikan oleh Eko Teguh dimana menurutnya kita semua perlu menghimpun sumberdaya untuk mengurangi resiko bencana. Ruang diskusi bersama antar pihak perlu dihidupkan kembali untuk bersama-sama mengurangi potensi risiko bencana.
   
Kepala Pelaksana BPBD Sleman menyampaikan walaupun aktivitas Merapi berada di tingkat Waspada beliau mengimbau masyarakat agar jangan terlalu khawatir dan tetap beraktivitas seperti biasa. Tetap meningkatkan kewaspadaan sehingga bila sewaktu-waktu ada peningkatan aktivitas bisa menyesuaikan diri. Kepala Dinas Pariwisata Sleman juga menyatakan bahwa Sleman masih aman, sehingga masyarakat dapat mengunjungi objek wisata di Sleman.

Terakhir, Kepala BPPTKG menyatakan erupsi Merapi saat ini tidak keluar dari karakternya. Di masa Waspada ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat menghadapi bahaya Merapi. Merapi memiliki sumber daya alam yang luar biasa, sehingga kita harus menghadapi Merapi dengan rasa optimis. Masyarakat yang ingin mengetahui aktivitas terkini Gunung Merapi dapat menghubungi BPPTKG melalui media social (twitter, facebook, dan Instagram) serta dapat menghubungi pos pengamatan Gunung Merapi. Kepala BPPTKG berharap supaya semua pihak dapat bersama-sama terus hidup berdamai dengan Merapi. “Living harmony with Merapi”.