Merawat Ketangguhan Warga Merapi dalam Satu Tahun Waspada


Hari ini setahun yang lalu tingkat aktivitas Gunung Merapi dinaikkan dari Normal ke Waspada. Status Waspada ditetapkan pada 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB dengan rekomendasi utamanya melarang segala jenis aktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak. Hal ini diputuskan setelah terjadi tiga kali letusan freatik pada hari yang sama yang diikuti peningkatan aktivitas kegempaan. Kejadian ini merupakan kelanjutan dari letusan freatik 11 Mei pukul 07.40 WIB. Setelah itu letusan freatik terus terjadi hingga 1 Juni 2018 hingga 12 kali.

Panjangnya waktu waspada, fenomena letusan freatik Mei-Juni tahun lalu, dan awan panas yang terjadi akhir-akhir ini dalam keadaan status aktivitas masih waspada menimbulkan pertanyaan sekaligus kekhawatiran apakah Merapi sudah berubah karakternya dan tidak bisa diprediksi. Berdasarkan pengalaman erupsi 2006 dan 2010 yang status waspadanya hanya berlangsung selama satu bulan, status Waspada kali ini terhitung panjang.

Sebenarnya status Waspada panjang tidak terjadi saat ini saja. Sebagai contoh waspada pada 2001 berlangsung selama enam bulan. Waspada pada 1994 dan 1996  bahkan berlangsung selama delapan bulan. Hal ini karena proses keluarnya magma (ekstrusi) secara efusif (lelehan) cenderung memakan waktu yang lama terutama yang laju ekstrusinya rendah.
Sebagai contoh ekstrusi magma saat erupsi 1992 dan 1998 berlangsung selama 19 bulan. Wajar jika saat ini status Waspadanya cukup panjang karena sebagai konsekuensi dari sebuah erupsi efusif dengan laju ekstrusi yang rendah.


Perjalanan Erupsi
Saat ini banyak masyarakat mengenal Merapi sebagai sebuah gunung api yang meletus besar secara eksplosif. Sudut pandang ini merujuk kepada erupsi besar 2010. Namun, pemerhati Merapi melihat karakter letusan Merapi yang efusif. Merapi membentuk kubah lava dan kemudian jika longsor menjadi awan panas atau wedhus gembel. Letusan 2010 dianggap sebagai anomali dari siklus Merapi. Bagi kedua kelompok masyarakat ini letusan freatik adalah sebuah anomali berdasarkan apa yang mereka ketahui.

Padahal berdasarkan catatan kejadian peningkatan aktivitas Gunung Merapi sejak 1768 sampai dengan 2014 telah terjadi letusan freatik sebanyak 19 kali sehingga tipe letusan ini menduduki peringkat kedua dari lima tipe letusan yang pernah terjadi dalam tiga abad terakhir. Tipe Merapi sendiri menempati peringkat ketiga dengan jumlah kejadian 13 kali. Peringkat keempat ditempati letusan besar seperti letusan 2010 sebanyak lima kali kejadian dan peringkat kelima adalah letusan vulkanian. Adapun tipe erupsi yang paling sering terjadi adalah tipe Merapi yang diikuti dengan letusan eksplosif yaitu sebanyak 34 kejadian.

Letusan freatik 2018 bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kronologi vulkanisme pasca-letusan besar 2010. Diduga morfologi kawah yang dalam menjadi faktor pengontrol terjadinya letusan freatik ini. Fenomena ini juga terjadi pasca-letusan besar 1872. Berikut kronologi vulkanisme erupsi 2018 - 2019 berdasarkan data pemantauan instrumental dan visual:

Fase pengisian di dalam dapur magma berlangsung pada 15 Juli 2012 sampai dengan 20 April 2014. Fase ini ditandai dengan letusan freatik yang terjadi secara berselang sampai dengan 2014 sebanyak delapan kali. Hal ini menunjukkan proses pengisian magma dalam dapur magma di kedalaman lebih dari 3 km, akibatnya produksi gas meningkat dan terakumulasi di bawah kawah yang kemudian terlepas sebagai letusan freatik. Data-data monitoring tidak ada perubahan yang signifikan, semua data menunjukan intensitas yang normal.

Fase migrasi magma dari dapur magma ke pipa bagian dalam terjadi pada 2017 sampai dengan 1 Juni 2018. Gempa-gempa vulkanik dalam (VTA) yang terjadi sejak 2017 dan rangkaian letusan freatik 11 Mei-1 Juni 2018 merupakan indikasi dapur magma sudah mulai penuh dan magma mulai mendesak saluran magma menuju kantong magma menghasilkan gempa-gempa VTA. Dalam proses migrasi magma ini terjadi pelepasan gas sehingga mengakibatkan letusan freatik yang lebih intensif. Data-data monitoring masih stabil.

Pengisian kantong magma di kedalaman 1,5 - 2,5 km terjadi pada Juni 2018. Hal ini ditandai dengan penurunan kegempaan. Fase Migrasi magma dari kantong magma menuju permukaan berlangsung pada 15 Juli-10 Agustus.
Berdasar data deformasi EDM (Electronic Distance Measurement), terjadi kenaikan (inflasi) sebesar 0,2 cm per hari di sektor barat laut/utara pada 15 Juli - awal Agustus. Demikian juga terjadi anomali pada data Tiltmeter di Stasiun Grawah, Selokopo, dan Labuhan. Selain itu terjadi gempa-gempa vulkanik dangkal (VTB) sebanyak 45 kali dalam sebulan terakhir (Juni hanya enam kali). Menunjukkan magma sudah mendesak di pipa atas menuju permukaan.

Fase kemunculan lava dan pertumbuhan kubah lava terjadi pada 11 Agustus 2018 - Januari 2019. Keluarnya lava pada 11 Agustus 208 menandakan dimulainya fase erupsi magmatis. Magma muncul di permukaan membentuk kubah lava dengan laju pertumbuhan rata - rata 3.000 meter kubik per hari. Ekstrusi magma terus terjadi. Di awal terjadinya pertumbuhan kubah lava, guguran lava cenderung mengarah ke barat laut dan meluncur berada di dalam kawah. Namun pada, 23 November 2018 guguran lava pijar pertama kali teramati mengarah ke Kali Gendol.

Pembentukan awan panas dan guguran lava dimulai pada 29 Januari 2019 sampai sekarang. Pertumbuhan kubah terhenti dan awan panas mulai terbentuk pada 29 Januari sampai sekarang dengan intensitas rendah dengan jarak jangkau maksimal dua kilometer.

Potensi dan Prediksi
Saat ini Merapi telah memasuki fase terbentuknya awan panas dan guguran lava. Sejak 29 Januari 2019 hingga saat ini telah terjadi 70 kejadian awan panas. Jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan erupsi-erupsi sebelumnya yang mencapai puluhan kali dalam sehari. Jarak awan panas saat ini masih pendek yaitu  kurang dari 2 km. Belum ada ancaman yang nyata kepada para penduduk di pemukiman. Untuk itu status Waspada masih ditetapkan demikian juga rekomendasi bahayanya.
Skenario terburuk jarak awan panas terjauh terjadi jika seluruh kubah lava runtuh. Berdasarkan pemodelan aliran awan panas, dengan volume saat ini sebesar 450 ribu meter kubik maka apabila terjadi luncuran awan panas tidak akan menjangkau jarak tiga km. Dengan demikian rekomendasi bahaya saat ini masih terhitung valid.

Berdasarkan laju ekstrusi yang kecil dan lama erupsi lebih besar atau sama dengan 10 bulan maka erupsi saat ini dapat disandingkan dengan dua siklus erupsi, yaitu 1992 dan 1998 yang keduanya memiliki skala letusan VEI (Volcano Explosivity Index) 2.

VEI 2 bermakna kekuatannya tidak terlalu besar. Volume yang dikeluarkan kurang dari 10 juta meter kubik. Sebagai perbandingan, erupsi Merapi 2010 memiliki VEI 4 dengan volume yang dikeluarkan selama erupsi sebesar 140 juta meter kubik. Meskipun sama - sama tergolong VEI 2, skala erupsi 1997 sedikit lebih tinggi dengan lama ekstrusi yang lebih panjang daripada erupsi 1992. Awan panas saat erupsi 1997 menjangkau jarak enam kilometer sedangkan erupsi 1992 hanya 4,5 kilometer. Lama ekstrusi erupsi 1997 sekitar 19 bulan sedangkan erupsi 1992 sekitar 12 bulan.
Melihat data pemantauan terutama kegempaan yang minim, erupsi kali ini lebih mirip dengan kronologi 1992 sehingga berarti saat ini dalam kecenderungan ke arah berhenti. Namun jika kegempaan justru meningkat, kronologi erupsi 1998 berpeluang terjadi sehingga krisis ini bisa akan berlangsung lebih lama lagi.

Tantangan Mitigasi
Di antara yang menjadi perhatian kita bersama adalah masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat tentang ancaman bahaya dan bagaimana meresponsnya. Menyaksikan letusan freatik 11 Mei 2018 yang begitu dahsyat banyak masyarakat yang kemudian ketakutan sehingga mengungsi dari tempat tinggal mereka. Setidaknya sebanyak 388 orang mengungsi di Balai Desa Glagaharjo.

Penetapan status waspada pada 21 Mei 2018 yang di dalamnya terdapat rekomendasi untuk tidak perlu mengungsi tidak membuat masyarakat untuk kembali ke rumah-rumah mereka. Baru kemudian setelah mereka melihat beberapa kali letusan freatik yang ternyata memang tidak membahayakan, mereka berangsur kembali ke rumah. Meskipun seharusnya dengan status Waspada ini tidak membatasi aktivitas warga Merapi, sebagian pihak mengeluhkan status Waspada ini berdampak kepada pencarian mereka.

Para pengelola hotel dan penginapan di sekitar Kaliurang banyak yang menyampaikan berkurangnya okupansi setelah kejadian letusan freatik dan penetapan status waspada. Demikian pula kunjungan di objek wisata Kaliurang juga menurun sekitar 25%. Hal ini berdasarkan laporan petugas retribusi yang dimuat di media massa beberapa waktu yang lalu.

Fenomena masyarakat yang tidak tepat dalam merespon aktivitas Gunung Merapi kemungkinan disebabkan oleh setidaknya tiga faktor. Pertama, efek traumatis letusan besar 2010. Letusan 2010 merupakan letusan yang sangat besar yang tidak pernah disaksikan oleh masyarakat di sekitar Merapi sebelumnya. Korban meninggal yang diakibatkan letusan ini juga cukup besar yaitu hampir 400 jiwa. Masyarakat yang mengalami letusan ini tentu sangat trauma. Menyaksikan letusan freatik dengan kolom letusan yang tinggi (lebih dari 5 km) dengan suara gemuruh yang kuat mengingatkan masyarakat Merapi terhadap letusan besar 2010. Rasa trauma terhadap letusan 2010 inilah yang kemudian mendorong masyarakat untuk mengungsi secara mandiri.

Kedua, masyarakat kurang memahami kriteria dan konsekuensi status aktivitas Gunung Merapi. Dalam hal ini  masyarakat tidak memahami bahwa status waspada bukan merupakan status yang kritis yang mengandung implikasi bahaya bagi mereka. Di dalam pengertian mereka status aktivitas meningkat berarti aktivitas Gunung. Merapi semakin serius dan semakin membahayakan mereka.
Ketiga, kepercayaan publik kepada instansi penyelenggara penanggulangan bencana rendah. Sehingga pengalaman buruk dan trauma terhadap apa yang mereka alami di erupsi 2010 lebih dominan mempengaruhi reaksi mereka. Untuk mengatasi permasalahan ini salah satu solusinya adalah edukasi yang berkesinambungan kepada masyarakat terancam. Di samping sosialisasi yang dilakukan untuk lebih menimbulkan perhatian dan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya Merapi, juga perlu dilakukan edukasi yang komprehensif dan berkesinambungan untuk menanamkan pemahaman mengenai ancaman bahaya yang ada di sekitar mereka dan mengenai makna peringatan dini serta bagaimana meresponnya dengan tepat. Hal ini seperti yang sudah dilakukan oleh BPPTKG bersama dengan BPBD dan entitas yang lain berupa kegiatan Wajib Latih Penanggulangan Bencana sejak tahun 2008.

Keindahan Erupsi
Status Waspada yang sudah satu tahun ini bagaimana pun waktu yang panjang. Belum diketahui kapan krisis ini akan berakhir. Selama masih waspada maka melihat Merapi yang sedang erupsi efusif dari perspektif yang lain yaitu sebagai fenomena alam yang indah yang terlalu berharga untuk dilewati menjadi lebih relevan daripada melihatnya sebagai sumber bencana.
Bila perspektif ini diterapkan, akan ada dua peluang besar yang akan dicapai. Pertama, masyarakat, khususnya wisatawan, diajak untuk menikmati keindahan erupsi efusif Merapi. Bagi pelaku wisata, ini adalah peluang ekonomi baru. Toh tak ada satupun destinasi wisata di Merapi yang berada di zona bahaya tiga kilometer dari puncak. Zona bahaya ini adalah ruang kosong yang tak dihuni manusia.

Kedua, sosialisasi dan mitigasi bisa dilakukan seiring dengan aktivitas wisata. Tak hanya warga lereng Merapi, publik lebih luas yang berwisata ke lereng Merapi mendapat pengetahuan tambahan tentang Indonesia yang ditakdirkan berada di dalam area Cincin Api (Ring of Fire). Ibarat bersampan, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan demikian warga merapi menjalani erupsi efusif Merapi selalu dengan optimisme.


Artikel ini dimuat di Harian Jogja, 21 Mei 2019 04:07 WIB
(https://opini.harianjogja.com/read/2019/05/21/543/993474/merawat-ketangguhan-warga-merapi-dalam-satu-tahun-waspada)".