International workshop on “Optimising the use of volcano monitoring database to anticipate unrest”

Pada saat gunungapi mengalami krisis dengan terjadinya kenaikan aktivitas, para ahli harus menginterpretasikan data pemantauan pada saat menghadapi krisis tersebut. Hal ini merupakan bagian yang terpenting agar dapat mengantisipasi erupsi dan melakukan yang tepat waktu. Untuk itu ahli vulkanologi perlu membuat keputusan berdasarkan data monitoring dan didukung data sejarah dan episode erupsi masa lampau.
 
Namun, banyak kasus dimana gunungapi memiliki catatan sejarah erupsi yang terbatas atau dipantau dengan instrumen yang terbatas. Sehingga sifat dan karakter erupsi gunung tersebut sulit untuk dipahami. Untuk kasus seperti ini perlu dilakukan studi banding dengan aktifitas gunungapi lain yang memiliki karakter sama (analog). Disinilah keberadaan database berbasis global sangat diperlukan, seperti contohnya WOVOdat (World Organisation of Volcano Observatory’ unrest database).
 
Kegiatan yang dilakukan dalam lokakarya ini adalah bertukar pengalaman antara staf observatorium gunungapi seluruh dunia dalam menangani data pemantauan gunungapi, menyusun strategi dan memperbaiki pengelolaan data pemantauan dan analisis data erupsi masa lalu untuk mengantisipasi erupsi di masa depan.


Kegiatan dilakukan pada tanggal 26-29 November 2018 di BPPTKG-PVMBG-Badan Geologi, Jl. Cendana no 15 – Yogyakarta. Acara workhshop  dibuka oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.  Peserta berasal dari 12 institusi dan observatory dari 12 negara.  Pada pembukaan, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyampaikan bahwa tantangan menghadapi bencana erupsi gunungapi adalah bagaimana kita menyampaikan dan menyebarluaskan informasi yang benar dan tepat waktu kepada pemerintah daerah dan badan yang terkait dengan penanggulangan bencana. Peningkatan kapasitas dalam pemantauan gunungapi merupakan upaya menuju mitigasi yang lebih baik. Dengan adanya workshop ini, diharapkan tantangan tersebut dapat dicapai.