Peringatan Hari Jadi ke-73 Pertambangan dan Energi di Yogyakarta

Sabtu, 22 September 2018 Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar didampingi oleh para pejabat Eselon 1 dan 2 di lingkungan Kementerian ESDM melakukan ziarah ke makam Pahlawan Kemerdekaan Nasional Arie Frederick Lasut di Yogyakarta. Sebelum ziarah, bertempat di Auditorium BPPTKG Yogyakarta, Archandra memberi pengarahan kepada para pegawai BPPTKG dan pengamat gunungapi wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur dan pada kesempatan tersebut juga bersilaturahmi dengan keluarga Pahlawan Kemerdekaan Nasional Arie F. Lasut. 


Dalam pengarahannya, Wakil Menteri ESDM memotivasi para pegawai agar selalu mengembangkan kompetensi diri dengan menambah ilmu melalui banyak membaca buku, meningkatkan ketrampilan dan menerapkan pengalaman untuk meningkatkan kinerja individu maupun organisasi. Diharapkan para pegawai sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) juga memiliki sikap disiplin sebagai modal yang dituntut oleh suatu organisasi modern dan sebagai pelayan masyarakat. Archandra juga mengunjungi ruang pemantauan BPPTKG untuk mengetahui teknologi sistem pemantauan dan melihat aktivitas terkini Gunung Merapi. 


Setelah itu, Wakil Menteri ESDM dan rombongan disertai keluarga Arie F. Lasut menuju Taman Pemakaman Umum Sasanalaya di Jalan Ireda No. 4, Yogyakarta untuk ziarah dan tabur bunga di makam Pahlawan Kemerdekaan Nasional Arie Frederick Lasut yang juga seorang ahli Pertambangan dan Geologi. Acara ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-73, yang ditetapkan tanggal 28 September. 

Pahlawan Kemerdekaan Nasional Arie Frederick Lasut
Lahir di Kapataran, Lembean Timur, Minahasa pada tanggal 6 Juli 1918, Arie Frederick Lasut merupakan seorang pelopor kebumian yang berjasa besar mempertahankan negara dengan menyelamatkan dokumen tambang dan geologi. Di masa muda, setelah mengalami berbagai kesulitan dalam memperoleh pendidikan, Lasut menjadi orang Indonesia pertama yang mendapat beasiswa dari Dienst Van Den Mijnbouw (Jawatan Pertambangan) untuk menjadi asisten geologi. Ketika zaman penjajahan Jepang, Dienst Van Den Mijnbouw (Jawatan Pertambangan) berganti nama menjadi Chishitsu Chosacho (Jawatan Geologi) dan Lasut menjadi salah satu orang Indonesia yang mendapatkan posisi di Jawatan tersebut. 

September 1945, Soekarno memerintahkan Lasut dan sejumlah pemuda lain untuk mengambil alih kantor pusat Chishitsu Chosacho di Bandung dan sejumlah pusat pertambangan daerah, yang diikuti dengan pembentukan Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG). Agresi militer Belanda menyebabkan Lasut dan rekan seperjuangan untuk mengungsi dengan membawa dokumen pertambangan penting, berpindah dari Rembrandt Straat (sekarang Jalan Diponegoro), Jalan Braga, Tasikmalaya, bahkan hingga ke Yogyakarta.


Lasut, dalam suasana perang tersebut, masih menyempatkan diri untuk membina kader dengan mendirikan sekolah di bidang pertambangan dan kegeologian di Magelang dan Yogyakarta pada tahun 1946, serta membuka cabang PDTG di Bukittinggi, Sumatera Barat. Lasut terus diincar Belanda karena pengetahuannya tentang geologi dan pertambangan di Indonesia. Pada 7 Mei 1949, Lasut diambil oleh Belanda dari rumahnya di Yogyakarta, lalu dibawa ke Pakem, sekitar 7 km di utara Kota Yogyakarta, dan berakhir dengan penembakan oleh Belanda. Jenazah Lasut dimakamkan di Pemakaman Sasanalaya, Yogyakarta. Lasut diberikan penghargaan Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Mei 1969.