LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI Tanggal 31 Agustus – 6 September 2018

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
Tanggal 31 Agustus– 6 September  2018
 
I.     HASIL PENGAMATAN
Visual
Cuaca cerah terjadi pada pagi dan malam hari, siang dan sore hari berkabut. Asap teramati berwarna putih, tebal, dengan tekanan gas lemah. Tinggi maksimum 25 m teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Selo pada tanggal 4 September 2018.
Kubah Lava dan Morfologi Puncak
Analisis morfologi berdasarkan foto dari berbagai sektor menunjukkan tidak terjadi perubahan morfologi sekitar puncak. Lampiran 1.a memperlihatkan analisis morfologi puncak melalui stasiun kamera Deles.
Volume kubah lava per 6 September 2018 sebesar 82.000 m3, dengan pertumbuhan rata-rata 3.900 m3/hari. Saat ini kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan yang masih rendah (<20.000 m3/hari). Lampiran 1.b memperlihatkan analisis kubah lava dari stasiun kamera Puncak.
Kegempaan
Dalam minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat 163 kali gempa Hembusan (DG), 14 kali gempa Vulkano-Tektonik dangkal (VTB),1 kali gempa Vulkano-Tektonik dalam (VTA), 36 kali gempa Fase Banyak (MP), 140 kali gempa Guguran (RF), 32kali gempa LF dan 9 kali gempa Tektonik (TT). Secara umum kegempaan pada minggu ini lebih intensif dari minggu sebelumnya. Lampiran 1.c menunjukkan grafik kegempaan di G. Merapi.

Deformasi
Pengukuran EDM menghasilkan jarak baseline RK2 (sektor selatan)sebesar 6506,97 m dan RB1 (sektor barat laut) sebesar 4044,84 m. Baseline GPS selo-pasar bubar sebesar 4259.202 m.
Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan EDM dan GPS pada minggu ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Lampiran 1.c menunjukkan grafik deformasi di G. Merapi.
Emisi SO2
Dalam minggu ini pengukuran DOAS (Differential Optical Absorption Spectroscopy) menghasilkan nilai rata-rata emisi SO2 puncak G. Merapi sebesar 87,47 ton/day, masih dalam kisaran normal. Lampiran 1.c menunjukkan grafik nilai emisi SO2 di G. Merapi.
Hujan dan Lahar
Pada minggu ini terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan rendah, yaitu2 mm/jam selama 65 menit di Pos Babadan pada tanggal 1 September 2018. Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahanaliran di sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi.

II.    KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka disimpulkan bahwa:
1.     Kubah lava saat ini dalam kondisi stabil dengan laju pertumbuhan yang masih relatif rendah.
2.     Aktivitas vulkanik G. Merapi masih cukup tinggi dan ditetapkan dalam tingkat aktivitas “WASPADA”.
Saran 
Dengan tingkat aktivitas G. Merapi “WASPADA” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai berikut:
        Radius 3 km dari puncak G. Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk dan pendakian.
        Masyarakat yang tinggal di KRB lll mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G.Merapi.
        Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi  yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.
        Untuk informasi resmi aktivitas G. Merapi masyarakat dapat mengakses informasi melalui Pos Pengamatan G.Merapi terdekat, radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz,website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
        Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini.
Demikian, atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.
 
Yogyakarta, 7 September  2018
a.n. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi,
Kepala BPPTKG
           
                                                                                        
 
Hanik Humaida
NIP. 196505231991032002
 
 
 
LAMPIRAN
Data Laporan Aktivitas Gunung Merapi Tanggal 31 Agustus – 6 September  2018
 

 
Lampiran 1. Pengamatan visual melalui kamera Stasiun Deles (a), Pengamatan kubah lava melalui Stasiun CCTV Puncak (b), Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode seismik, EDM Reflektor Kaliurang 2 dan Babadan 1, baseline GPS Selo-Pasarbubar, dan nilai emisi SO2 (c).