Diskusi Scientific Forum: Kajian Erupsi Freatik G. Merapi 11 Mei 2018

Selasa (15/5/2018) di kantor BPPTKG Jl. Cendana No. 15 Kota Yogyakarta berlangsung perhelatan diskusi bertajuk Kajian Erupsi Freatik 11 Mei 2018 yang menghadirkan parapihak terdiri dari Akademisi, Badan Penanggulanggan Bencana Daerah provinsi dan kabupaten di lingkar Merapi, serta Taman Nasional Gunung Merapi. Acara dibuka langsung oleh Kepala BPPTKG Dr. Dra. Hanik Humaida M. Sc yang baru menjabat sejak 3 Mei 2018 ini. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa forum diskusi ini menjadi ajang bertemunya berbagai disiplin ilmu dengan tujuan untuk mengupas tuntas letusan freatik yang terjadi pada tanggal 11 Mei 2018 di Gunung Merapi. Sebanyak 33 orang hadir yang berasal dari TNGM, BPBD Prov. D.I Yogyakarta, BPBD Prov. Jawa Tengah, BPBD Kab. Magelang, BPBD Kab. Boyolali, BPBD Kab. Klaten, UGM, IST- AKPRIND,UPN, STTNAS, serta peneliti gunungapi dari IPGP Perancis (Gambar 1).
 Gambar 1. Pemaparan kronologi letusan freatik oleh kepala BPPTKG Dr. Dra.Hanik Humaida, M. Sc. Peserta diskusi terdiri dari akademisi,  BPBD di lingkar Merapi, dan TNGM
 
Dalam paparannya Kepala BPPTKG menyampaikan materi tentang erupsi freatik tanggal 11 Mei 2018 yang termasuk dalam VEI (Volcano Explosivity Index) 1. Disampaikan pula kronologi erupsi dan semua hasil pemantauan yang mengiringinya meliputi data dari metode visual, seismik, geokimia, dan deformasi termasuk pemodelan sumber tekanan. Berdasarkan indikasi termal pusat kawah pada pukul 7.20 yang meningkat lebih dari 2 kali dari biasanya (Gambar 2a), maka dilakukan upaya peringatan dini kepada pendaki melalui TNGM dan Basecamp pendakian.Namun demikian 15 menit setelah peringatan tersebut, letusan freatik terjadi sehingga tidak cukup waktu untuk melakukan evakuasi terhadap pendaki yang saat itu berada di Pasarbubar dan puncak Merapi.  Beruntung letusan freatik ini tidak melontarkan material yang berbahaya di Pasarbubar, tidak seperti letusan 18 November 2013 yang melontarkan kerikil bahkan bongkahan batu ke area tersebut.

Data dari berbagai metoda monitoring yaitu metode seismik, deformasi, dan geokimia  tidak menunjukkan prekursor yang jelas bahkan stasiun tiltmeter terdekat (1 km dari pusat kawah) sampai dengan menit terakhir tidak menunjukkan perubahan terkait erupsi ini (Gambar 2b dan 2c). Ketidakpekaan stasiun deformasi terhadap gejala letusan freatik dapat dijelaskan dengan volume material letusan yang tidak cukup besar jika dibandingkan dengan volume minimal untuk bisa tercatat oleh stasiun berjarak 1 km dari pusat tekanan.

Gambar 2. Data monitoring sebelum erupsi: (a) Grafik data termal pusat kawah menunjukkan anomali yang signifikan 20 menit sebelum letusan freatik. (b) Pemodelan sumber tekanan dari data Tiltmeter dalam 1 minggu terakhir tidak menunjukkan adanya sumber tekanan yang terpusat. (c) Data Tiltmeter terdekat (1 km utara puncak) dalam 2 hari tampak sangat rendah variasinya (masih di bawah pengaruh suhu) dan tidak menunjukkan anomali sampai dengan menit – menit terakhir. Garis Hijau U-S, Garis Biru B-T, dan garis abu – abu menunjukkan suhu, serta garis merah menandakan waktu letusan.
 
Disampaikan pula hasil analisa laboratorium sampel abu letusan 11 Mei 2018 yang menunjukkan bahwa letusan tersebut merupakan letusan freatik/non magmatis dibuktikan dengan tidak adanya juvenile. Analisa Mikroskop Binocular, SEM (Scanning Electron Microscope) dan XRF (X – Ray Fluorescence) dilakukan terhadap sampel abu vulkanik yang diambil dari tiga lokasi yang berbeda yaitu di Tlogoputri, Telogo Muncar dan Pos Kaliurang. Hasil pengamatan dengan menggunakan mikroskop binokuler, butiran abu dapat diklasifikan menjadi: material teralterasi, free crystals, lithik, dan butiran mengkilap yang diduga glass (Gambar 3.a). Masing – masing kelompok butiran (Gambar 3.b) kemudian diamati lebih lanjut menggunakan SEM – EDS (Gambar 3.c). Hasil pengamatan menunjukkan sebagian besar merupakan spektrum plagioclase, dan pyroxene. Sementara satu spektrum yang diduga sebagai glass, setelah dibandingkan dengan literatur merupakan spektrum dari amphibole. Hal di atas menunjukkan bahwa dari 50 butir material abu yang dianalisis belum ditemukan butiran juvenileglass (glass shard). Hasil analisis abu dengan XRF (whole rock analysis) menunjukkan bahwa komposisi kimia abu mendekati hasil analisis abu letusan freatik pada 20 April 2014 (Gambar 3.d).
 

Gambar 3. Analisa salah satu sampel abu letusan Merapi 11 Mei 2018: (a) Pengamatan dengan mikroskop binokuler yang menunjukkan butiran – butiran didominasi material alterasi dan lithik. (b) Pengklasifikasian butiran – butiran abu letusan. (c) Analisis butiran abu dengan SEM – EDS, dari gambar morfologi dengan detektor Backscattered Electron serta spektrum EDS butiran yang diduga glass merupakan mineral amphibole. (d) Diagram whole rock analysis abu vulkanik dengan WD – XRF menunjukkan karakter yang sama dengan letusan freatik April 2014
 
 
Pada bagian pemaparan terakhir disampaikan skenario bahaya ke depan berdasarkan kronologi letusan analog 2010 yaitu letusan yang terjadi pada tahun 1872 dan 1930 (Gambar 4). Skenario ini menjadi panduan untuk kegiatan mitigasi menghadapi letusan freatik dan magmatik dimasa depan.

Gambar 4. Kronologi Erupsi analog 2010 yaitu erupsi 1872 dan 1930 menunjukkan bahwa setelah letusan besar yang menghasilkan kawah yang dalam terjadi beberapa kali letusan freatik sebelum erupsi magmatik berikutnya.
 
Pada sesi diskusi yang di moderatori oleh Drs. Subandriyo, M. Si dari para akademisi selain menanyakan beberapa pertanyaan teknis mereka mengapresiasi pertemuan ini sebagai bentuk akuntabilitas publik. Beberapa gagasan disampaikan untuk memperdalam analisa data dan menawarkan bantuan dalam bentuk penelitian bersama untuk menerapkan metode – metode analisa yang terbaru.  Sedangkan dari BPBD Provinsi dan Kabupaten di lingkar Merapi menyampaikan apresiasinya atas kesigapan dalam memberikan informasi sehingga masyarakat tidak terlanjur panik. Disampaikan pula pentingnya SOP penanggulangan letusan freatik di BPBD masing – masing dan juga upaya mitigasi yang tepat sesuai dengan ancaman freatik.
 
 
 
  Gambar 5. Proses diskusi dan tanya jawab
 
Kalakhar BPBD Prov. Jawa Tengah Sarwa Pramana mengatakan bahwa batas – batas wilayah agar tidak menjadi masalah dalam penanggulangan bencana, diperlukan kordinasi yang lebih baik guna memberikan rasa aman kepada masyarakat. Diharapkan BPPTKG mampu meningkatkan kemampuan monitoringnya dan penyampaian informasi yang cepat sehingga terdapat waktu yang cukup untuk respon mitigasi yang tepat.
Diakhir diskusi moderator menarik kesimpulan antara lain:
  1. Aspek peringatan dini erupsi freatik yang berbasis pada data monitoring masih pada tahap peluang dan harapan belum sampai pada tahapan peringatan dini seperti erupsi magmatik, persoalannya bukan karena penyampaian informasi yang terlambat tetapi kepada peningkatan pemantauan yang lebih efektif karena proses precursor yang cepat sehingga diperlukan peringatan dini yang berbeda dengan letusan magmatik yang memiliki masa prekursor awal yang lebih panjang.
  2. Forum diskusi ini menjadi bagian dari proses "kejujuran" dalam penyampaian data-data monitoring tidak ada yang ditutup-tutupi.
  3. Perlu peningkatan upaya penanggulangan bencana berupa pelatihan khusus bagi masayarakat untuk merespon kejadian letusan freatik yang karakternya berbeda dengan letusan magmatik sebagai bagaian dari upaya mitigasi di Merapi yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah di lingkar Merapi.
  4. Kejadian erupsi freatik membuat kita gumreget, gumregah, dan gumregut. Gumreget artinya memiliki greget semangat untuk mempelajari dan berupaya lebih baik mengenal tanda-tanda letusan freatik. Gumregah artinya membangunkan semangat dan kesadaran stake holder untuk merencanakan tindakan mitigasi peristiwa letusan freatik. Gumregut artinya mewujudkan rencana – rencana dalam bentuk tindakan dan kolaborasi antar stake holder sesuai dengan kompetensi dan kewenangan masing-masing baik dari pemerintah daerah, masyarakat, dan akademisi. (nc)