LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI Tanggal 27 Oktober - 2 November 2017

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
Tanggal 27 Oktober - 2 November 2017
 
I.     HASIL PENGAMATAN
Visual
Cuaca cerah terjadi pada pagi dan malam hari, siang dan sore hari berkabut.  Asap berwarna putih, ketebalan sedangdengan tekanan gas lemah, tinggi maksimum 80 m condong ke Barat, teramati dari Pos Pengamatan Kaliurangpada tanggal31 Oktober 2017 pukul 08:15 WIB. Saat ini kondisi morfologi G. Merapi belum menunjukkan adanya perubahan yang signifikan (lampiran 1a).  
Kegempaan
Dalam minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat  1 kali gempa multiphase (MP), 11 kali gempa guguran (RF), dan 12 kali gempa tektonik (TT). Aktivitas kegempaan minggu ini masih berada dalam kategori normal. Lampiran 1b menunjukkan grafik kegempaan di G. Merapi.
Deformasi
Data tiltmeter yang diperoleh dari Stasiun Selokopo Atas masih fluktuatif dalam batas toleransi alat, untuk sumbu U–S sebesar -19.16µrad. Pengukuran EDM menghasilkan nilai jarak tunjam rata-rata untuk RK2 (sektor selatan) sebesar 6506,94 m. Data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo–Pasarbubar menunjukkan jarak sebesar 4259.20 m.
Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan tiltmeter, EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Lampiran 1c menunjukkan grafik deformasi di G. Merapi.
Hujan dan Lahar
Pada minggu ini terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapidengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 38 mm/jam selama 55 menit di Pos Ngepos pada tanggal 28 Oktober 2017.Lampiran 1d menunjukkan grafik curah hujan di G. Merapi.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka aktivitas G. Merapi dinyatakan dalam tingkat aktivitas “NORMAL”.
Saran 
Dengan tingkat aktivitas G. Merapi “NORMAL” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai berikut:
        Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak G. Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki.
        Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka tingkat aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.
        Mengingat saat ini mulai memasuki musim hujan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lahar.
 
Demikian, atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.
 
Yogyakarta, 3 November 2017
a.n. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi,
Kepala BPPTKG
 
 
 
 
 
I Gusti Made Agung Nandaka
NIP. 19641227 199303 1 005

 
II.   LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengamatan visual melalui kamera Deles,foto diambil pada tanggal 1November  2017 (a). Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode seismik (b). Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode deformasitiltmeter Stasiun Selokopo Atas, EDM Reflektor Kaliurang 2, dan baseline GPS Selo–Pasarbubar (c). Grafik curah hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi (d).