LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI Tanggal 13 - 19 Oktober 2017

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
Tanggal 13 - 19 Oktober 2017

I.HASIL PENGAMATAN
Visual
Cuaca cerah terjadi pada pagi dan malam hari, siang dan sore hari berkabut dan hujan sesekali terjadi.  Asap berwarna putih, sedang dengan tekanan gas lemah, tinggi maksimum 75 m condong ke Barat Daya, teramati dari Pos Pengamatan Selo pada tanggal 18 Oktober 2017 pukul 06:30 WIB. Saat ini kondisi morfologi G. Merapi belum menunjukkan adanya perubahan yang signifikan (lampiran 1a).  
Kegempaan
Dalam minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat 1 kali gempa vulkanik (VT), 1 kali gempa multiphase (MP), 13 kali gempa guguran (RF), dan 16 kali gempa tektonik (TT). Aktivitas kegempaan minggu ini masih berada dalam kategori normal. Lampiran 1b menunjukkan grafik kegempaan di G. Merapi.
Deformasi
Data tiltmeter yang diperoleh dari Stasiun Selokopo Atas masih fluktuatif dalam batas toleransi alat, untuk sumbu U–S sebesar -21.98 µrad. Pengukuran EDM menghasilkan nilai jarak tunjam rata-rata untuk RK2 (sektor selatan) sebesar 6506,94 m. Data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo–Pasarbubar menunjukkan jarak sebesar 4259.20 m. 
Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan tiltmeter, EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Lampiran 1c menunjukkan grafik deformasi di G. Merapi.
Hujan dan Lahar
Pada minggu ini terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 30 mm/jam selama 110 menit di Pos Ngepos pada tanggal 16 Oktober 2017. Terjadi penambahan aliran di Sungai Bebeng pada pukul 18.30 WIB. Lampiran 1d menunjukkan grafik curah hujan di G. Merapi. 
 
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka aktivitas G. Merapi dinyatakan dalam tingkat aktivitas “NORMAL”.
Saran  
Dengan tingkat aktivitas G. Merapi “NORMAL” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai berikut:
•Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak G. Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki.
•Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka tingkat aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

Demikian, atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.

Yogyakarta, 20 Oktober 2017
a.n. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi,
Kepala BPPTKG
u.b.
Kepala Subbagian Tata Usaha




Kusdaryanto
NIP. 19630429 199603 1 001



II.LAMPIRAN

 
Lampiran 1. Pengamatan visual melalui kamera Deles, foto diambil pada tanggal 13 Oktober  2017 (a). Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode seismik (b). Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode deformasi tiltmeter Stasiun Selokopo Atas, EDM Reflektor Kaliurang 2, dan baseline GPS Selo–Pasarbubar (c). Grafik curah hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi (d).