Komunitas Jeep Wisata Merapi Sebagai Agen Mitigasi

Komunitas Jeep Wisata Merapi Sebagai Agen Mitigasi

Yogyakarta, 9 Agustus 2017

Gunung Merapi sebagai salah satu gunungapi yang aktif di dunia memiliki potensi ancaman bencana dan potensi wisata. Disaat tingkat aktivitas G. Merapi normal masyarakat dapat melakukan berbagai aktivitas penghidupannya, salah satu kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi adalah bidang pariwisata. Gunung Merapi yang sudah dikenal luas diseluruh dunia memiliki keindahan alam dan atraksi wisata yang menarik. Paska letusan tahun 2010 kunjungan wisata di Kab. Sleman terus mengalami peningkatan, pada tahun 2011 kunjungan wisatawan domestik pada 2011 mencapai 3,01 juta orang dan wisatawan mancanegara mencapai 262 ribu dan terus meningkat pada tahun-tahun setelahnya. Selama periode libur lebaran 2017 ini (23 Juni 2017 – 2 Juli 2017), destinasi wisata di Kabupaten Sleman dikunjungi setidaknya 504.206 wisatawan. Lokasi wisata lava tour Merapi masih menjadi destinasi favorit para wisatawan domestik dan mancanegara dalam mengisi liburan mereka di Yogyakarta, atraksi wisata berkendara dengan mobil jenis Jeep melewati rute menantang memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan. Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa aktivitas tersebut juga berada didalam area Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi, karakteristik bahaya primer Merapi berupa awan panas menjadi ancaman nyata bagi wilayah Kawasan Rawan Bencana III yang mengancam nyawa manusia, harta benda dan penghidupan disana. Dari kenyataan dilapangan tersebut maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh ancaman bahaya G. Merapi diwilayah destinasi wisata yang dilakukan oleh pelaku wisata dan institusi penanggulangan bencana.
Menyadari akan kerentanan tersebut BPPTKG pada tanggal 1-3 Agustus 2017 mengadakan program Wajib Latih Penanggulangan Bencana (WLPB) bagi Komunitas Jeep Wisata Merapi, komunitas tersebut tergabung dalam Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) yang beranggotakan 29 komunitas. Dardiri selaku ketua AJWLM mengatakan bahwa perkembangan signifikan keanggotaan asosiasi ini terjadi pada tahun 2015 dimana jumlah kendaraan tipe Jeep yang sebelumnya hanya berjumlah 300-an meningkat menjadi 720 kendaraan pada tahun 2017. Kegiatan WLPB bagi komunitas jeep ini baru pertama kali dilaksanakan, yang membedakan dengan WLPB sebelumnya adalah peserta yang biasanya penduduk yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) namun saat ini pesertanya adalah komunitas jeep wisata. Mart Widarto sebagai salah satu fasilitator dalam kegiatan ini mengatakan bahwa WLPB bagi dunia usaha khususnya wisata ini menjadi hal yang unik yaitu menyandingkan bagaimana mereka (komunitas jeep) disatu sisi mencari income (pendapatan) disisi lain mereka harus bersinggungan dengan kegiatan kerelawanan atau kegiatan sosial. Sehingga perlu pendekatan dan pemhaman bahwa urusan pengurangan risiko bencana dan usaha ini sebagai satu kesatuan bukan sesuatu yang terpisah antara bisnis dan kemanusiaan.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan WLPB ini antara lain Dr. Surono sebagai tenana ahli kebencanaan Kementerian ESDM, Makwan, ST. MT dari BPBD Kabupaten Sleman dan Dra. Safitri Nurmaladewi, MA dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. Sementara itu selaku fasilitator Mart Widarto dan Bambang Hery dari Pujiono Centre dan Djenarto dari Komunitas PASAG Merapi. Sebanyak 29 komunitas jeep wisata hadir mengikuti serangkaian acara yang diselenggarakans elama tiga hari. Disampaikan Dr. Surono dalam sebuah wawancara bahwa hampir semua gunungapi di Indonesia menyelenggarakan kegiatan yang berhubungan dengan wisata sehingga perlu pengelolaan wisata yang berwawasan mitigasi. Perlunya pemahaman mengenai apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam tingkat aktivitas Gunung Merapi bagi komunitas jeep menjadi hal yang harus dipahami dengan baik, disamping itu perlu ditekankan bahwa perbandingan masa istirahat Merapi yang panjang dibanding masa erupsinya harus dipahami bahwa ini merupakan persoalan ruang dan waktu sehingga risiko bencana dapat ditekan dan penyelenggaraan wisata dapat berlangsung dengan baik. Dalam kegiatan ini para peserta berdiskusi secara kelompok untuk membuat prosedur operasi standar yang disepakati bersama sebagai pedoman dalam penyelenggaraan wisata lava tour, peserta juga diajak untuk mengunjungi potensi destinasi wisata baru di Kecamatan Cangkringan yaitu di lokasi Kantong Lahar Bronggang, Tetenger Bakalan, Huntap Dongkelsari dan Kampung Seribu Batu. Peserta didampingi oleh ahli geologi BPPTKG yang memberikan penjelasan mengenai fenomena geologi yang terjadi di lokasi-lokasi tersebut.
Secara terpisah Kepala BPPTKG I Gusti Made Agung Nandaka menyampaikan bahwa tujuan jangka panjang dari penyelenggaraan WLPB ini adalah memastikan bahwa kegiatan pariwisata yang berada di wilayah Kawasan Rawan Bencana Merapi dapat berlangsung secara aman dengan menekan risiko yang ditimbulkan semaksimal mungkin dan yang lebih penting adalah membangun prosedur untuk pedoman pelaksanaan dalam pelaksanaannya. Bagi Bambang Hery sebagai fasilitator bahwa  pelaksanaan WLPB ini menjadi penting dimana rencana tindak lanjutnya adalah lebih mendekatkan para pelaku bisnis wisata di Merapi dengan pelaku-pelaku kebencanaan, sehingga didalamnya para pelaku wisata dalam hal ini driver yang juga pemandu ini tidak hanya mengantar wisatawan ke tujuan tetapi juga memberikan informasi terkait kebencanaan. Peran mereka lebih jelas baik dalam kondisi sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana di Merapi, imbuhnya. Disampaikan Dr. Surono bahwa para penyelenggara wisata lava tour ini adalah tangan-tangan strategis sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah dalam hal ini BPPTKG yang diberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai aktivitas dan karakter Merapi sehingga bisa menyampaikan informasi yang didapatkan dalam wajib latih ini kepada para wisatawan yang berkunjung ke Merapi. Hasil kegiatan ini adalah dokumen SOP (Standart Operational Procedure) bagi komunitas Jeep dalma menjalankan aktivitasnya di area Gunung Merapi sedangkan rencana tindak lanjutnya adalah akan diadakan penguatan kapasitas bagi anggota komunitas AJWLM berupa pelatihan bersama Dinas Pariwisata Kab. Sleman dan sosialisasi kepada seluruh anggota asosiasi bersama BPPTKG dan BPBD Kab. Sleman. (NC)