Pengukuran Suhu dan Gas Vulkanik Gunung Merapi

Yogyakarta, (20/3/2017) Dalam pemantauan aktivitas Gunung Merapi khususnya di bidang geokimia gas, pengambilan gas dilakukan secara langsung di lapangan. Metode pengambilan sampel gas dilakukan dengan menggunakan tabung giggenbach yang diisi larutan alkali NaOH 4N yang divakumkan sampai tekanan -1000 mbar. Gas yang diambil terdiri dari gas tidak terlarut dan gas terlarut dalam larutan alkali. Gas yang tidak terlarut seperti He, H2, O2, N2 , CH4, dan CO dianalisis menggunakan Gas Chromatography, dan untuk gas yang terlarut seperti S total, CO2, HCl, HF dan NH3 dianalisis dengan metode volumetri, kalorimetri (spektrofotometri) dan dengan elektrode ion spesifik.



Pasca erupsi 2010 terdapat 2 titik fumarol yang diamati suhu dan komposisi kimia gasnya, yaitu titik tradisi dan titik lava 53. Titik tradisi berada di lava 1915, ± 7 meter sebelum sampai ke puncak, yaitu pada titik koordinat S 07032’23.0” E 110026’50.5” dan elevasi 2.889 mdpl. Sedangkan titik Lava 53 berada di sisi barat laut pada koordinat S 07032’09.2” E 110026’48.2” Elevasi 2.636 mdpl.


Pengamatan geokimia gas Gunung Merapi dilakukan secara rutin dan berkala antara 1 – 2 bulan sekali. Pengukuran terakhir dilakukan pada tanggal 24 Februari 2017. Untuk mendapatkan hasil yang baik, diperlukan sampel yang representatif dan proses analisis yang minim dari faktor-faktor eror. Sehingga diperoleh data dengan akurasi dan presisi yang baik dan dapat memberikan informasi tentang aktivitas magmatik Gunung Merapi.

Hasil pemantauan gas fumarol G. Merapi dapat dilihat dalam grafik berikut:



Dari data tersebut menunjukkan belum terdapat peningkatan yang signifikan pada nilai temperatur serta komposisi gas CO2 (Karbon dioksida) dan gas HCl (Hidrogen klorida). Maka tingkat aktivitas G. Merapi masih dalam kategori normal.