Optimalisasi Stasiun Multiparameter Klatakan dan Labuhan, Gunung Merapi


Yogyakarta (09/03/2017) Gunung Merapi dipantau selama 24 jam sehari menggunakan peralatan di stasiun pemantauan maupun secara visual di Pos Pengamatan Gunung Merapi. Salah satu metode yang digunakan untuk memantau aktivitas vulkanik Gunung Merapi adalah dengan menggunakan metode seismik. Metode ini berguna untuk merekam getaran yang terjadi di Gunung Merapi. Dari rekaman getaran ini dapat dihitung jumlah gempa harian yang digunakan untuk evaluasi tingkat aktivitas Gunung Merapi.
Untuk menjaga kelangsungan data pemantauan, perlu dilakukan langkah perbaikan, perawatan dan optimalisasi. Kegiatan ini mencakup kegiatan perawatan stasiun dan penggantian suku cadang apabila ada yang rusak. Pada bulan Maret ini telah dilakukan kegiatan optimalisasi stasiun seismik di Klatakan dan Labuhan. Kegiatan ini dilakukan mengingat kedua stasiun ini mulai menurun kinerjanya.
Kegiatan di stasiun Klatakan (sisi Barat Gunung Merapi) adalah dengan melakukan penggantian antenna pengirim data seismik analog, optimalisasi sistem akuisisi data seismik array dan melakukan perawatan sistem catudaya. 


Sedangkan kegiatan di stasiun Labuhan (sisi Selatan Gunung Merapi) adalah melakukan penggantian baterai dan membersihkan lokasi sekitar stasiun. Di sekitar stasiun Labuhan ini terdapat pohon-pohon yang tinggi sehingga mengganggu pasokan sumber tegangan dari matahari ke solar panel serta ke baterai.
Setelah dilakukan kegiatan perbaikan dan optimalisasi, data dari kedua stasiun dapat diterima di Kantor BPPTKG dan Pos Pengamatan Gunung Merapi.