LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI Tanggal 17 - 23 Februari 2017

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
Tanggal 17-23 Februari 2017
 
I.    HASIL PENGAMATAN
Visual
Cuaca cerah terjadi pada pagi hari sedangkan pada siang dan malam hari berkabut disertai mendung. Asap berwarna putih, tipis dengan tekanan gas lemah, tinggi maksimum 250 m arah timur, teramati dari Pos Pengamatan Kaliurang pada tanggal 21 Februari 2017 pukul 15:35 WIB.Terjadi perubahan morfologi pada tebing lava tua (1911) yang masuk ke hulu K. Gendol (Lampiran 1a). Perubahan morfologi ini terkait dengan kejadian guguran pada tanggal 23 Februari 2017 jam 01.06 WIB.
Kegempaan
Dalam minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat 1 kali gempa vulkanik dangkal (VB), 1 kali gempa multiphase (MP), 12 kali gempa guguran (RF) dan 8 kali gempa tektonik (TT). Gempa VB terjadi pada tanggal 23 Februari 2017 pukul 11:16 WIB di kedalaman 100 m.Diantara guguran yang terjadi mengakibatkan perubahan morfologi dalam skala kecil di sekitar puncak. Secara umum aktivitas kegempaan minggu ini masih berada dalam kategori normal. Lampiran 1b menunjukkan grafik kegempaan di G. Merapi.
Deformasi
Data tiltmeter yang diperoleh dari Stasiun Selokopo Atas masih fluktuatif dalam batas toleransi alat, untuk sumbu U–S sebesar -39.19µrad. Pengukuran EDM menghasilkan nilai jarak tunjam rata-rata untuk RK2 (sektor selatan) sebesar 6506,94 m. Data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo–Pasarbubar menunjukkan jarak sebesar 4259.19m.
Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan tiltmeter, EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Lampiran 1c menunjukkan grafik deformasi di G. Merapi.
 
 
Hujan dan Lahar
Pada minggu ini terjadi hujan di seluruh Pos Pengamatan Gunung Merapi. Intensitas curah hujan tertinggi terjadi di Pos Ngepos pada tanggal 22 Februari 2017, tercatat jumlah curah hujan 41 mm/jam selama 85 menit.Dilaporkan dari Pos Pengamatan Gunung Merapi bahwa pada tanggal 22 Februari 2017 terjadi penambahan aliran di hulu Kali Gendol dan Kali Woro, namun dari kejadian tersebut tidak menimbulkan lahar di daerah hilir. Lampiran 1d menunjukkan grafik curah hujan di G. Merapi.
 
II.   KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka aktivitas G. Merapi dinyatakan dalam tingkat aktivitas “NORMAL”.
Saran
Dengan tingkat aktivitas G. Merapi “NORMAL” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai berikut:
       Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak G. Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki.
       Saat ini hujan masih terjadi di seputar G. Merapi, untuk itu masyarakat perlu menjaga kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lahar.
       Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka tingkat aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.
 
Demikian, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.
 
Yogyakarta, 24 Februari 2017
a.n. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
BencanaGeologi,
Kepala BPPTKG
 
 
I Gusti Made Agung Nandaka
NIP. 196412271993031005

 
III.LAMPIRAN

Lampiran 1.Pengamatan visual melalui kamera Stasiun Deles (a), foto diambil pada tanggal 24 Februari  2017 pukul 07.11 WIB, pada sketsa garis warna merah menunjukkan morfologi delineasi minggu sebelumnya sedangkan delineasi garis warna kuning menunjukkan perubahan morfologi yang terjadi pada minggu ini . Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode seismik (b) dan deformasi (c) tiltmeter Stasiun Selokopo Atas, EDM Reflektor Kaliurang 2, dan baseline GPS Selo–Pasarbubar. Grafik curah hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi (d).