Laporan Aktifitas Gunung Merapi Tanggal 02 – 08 Desember 2016

I. HASIL PENGAMATAN
Visual
Cuaca sepanjang hari berkabut disertai mendung. Asap berwarna putih, tebal dengan tekanan gas lemah, tinggi maksimum 150 m arah timur, teramati dari Pos Pengamatan Babadan pada tanggal 06 Desember 2016 pukul 06.10 WIB. Saat ini kondisi morfologi G. Merapi belum menunjukkan adanya perubahan.

Kegempaan
Dalam minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat 5 kali gempa VTA (Vulkano-Tektonik dalam), 1 kali gempa VTB (Vulkano-Tektonik dangkal), 8 kali gempa guguran, dan 9 kali gempa tektonik. Aktivitas kegempaan minggu ini masih berada dalam kategori normal. Lampiran 1a menunjukkan grafik kegempaan di G. Merapi, sedangkan lampiran 1b menunjukkan hiposenter gempa vulkanik.

Deformasi
Data tiltmeter yang diperoleh dari Stasiun Selokopo Atas masih fluktuatif dalam batas toleransi alat, untuk sumbu U–S sebesar -38 µrad. Pengukuran EDM menghasilkan nilai jarak tunjam rata-rata untuk RK2 (sektor selatan) sebesar 6506,94 m, relatif sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo–Pasarbubar menunjukkan jarak sebesar 4259,20 m.

Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan tiltmeter, EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Lampiran 1c menunjukkan grafik deformasi di G. Merapi.

Hujan dan Lahar
Pada minggu ini terjadi hujan di seluruh Pos Pengamatan Gunung Merapi. Intensitas curah hujan tertinggi terjadi di Pos Ngepos pada tanggal 06 Desember 2016, tercatat jumlah curah hujan 86 mm/jam selama 25 menit. Tidak dilaporkan adanya penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi. Lampiran 1d menunjukkan grafik curah hujan di G. Merapi.

II. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka aktivitas G. Merapi dinyatakan dalam tingkat aktivitas “NORMAL”.
Saran
Dengan tingkataktivitas G. Merapi “NORMAL” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai berikut :
  • Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak G. Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki.
  • Saat ini hujan masih terjadi di seputar G. Merapi, untuk itu masyarakat perlu menjaga kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lahar.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka tingkat aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

Demikian, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Yogyakarta, 09 Desember 2016
a.n. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi,
BencanaGeologi,
Kepala BPPTKG




I Gusti Made Agung Nandaka
NIP. 196412271993031005


III. LAMPIRAN

a)
b)
c)

d)
Lampiran 1. Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode seismik (a) serta hiposenter gempa vulkanik (b). Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode deformasi (c) tiltmeter Stasiun Selokopo Atas, EDM Reflektor Kaliurang 2, dan baseline GPS Selo–Pasarbubar. Grafik curah hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi (d).