Laporan Aktifitas Gunung Merapi Tanggal 21 – 27 Oktober 2016

I. HASIL PENGAMATAN
Visual
Cuaca cerah terjadi pada pagi dan malam hari, sedangkan pada siang dan sore hari cuaca berkabut disertai mendung. Asap berwarna putih, tebal dengan tekanan gas lemah, tinggi maksimum 600 m arah barat, teramati dari Pos Pengamatan Kaliurang pada tanggal 27 Oktober 2016 pukul 04.50 WIB. Lampiran 1a menunjukkan kondisi morfologi G. Merapi.

Kegempaan
Dalam minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat 79 kaligempa guguran dan 12 kali gempa tektonik. Aktivitas kegempaan minggu ini berada dalam kategori normal. Lampiran 1b menunjukkan grafik kegempaan di G. Merapi.

Deformasi
Data tiltmeter yang diperoleh dari Stasiun Selokopo Atas masih fluktuatif dalam batas toleransi alat, untuk sumbu U–S sebesar -37,45 µrad. Pengukuran EDM menghasilkan nilai jarak tunjam rata-rata untuk RK2 (sektor selatan) sebesar 6506,94 m, relatif sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Data pemantauan baseline GPS Stasiun Selo–Pasarbubar menunjukkan nilai perubahansebesar 0,01 m.
Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan tiltmeter, EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Lampiran 1c menunjukkan grafik deformasi di G. Merapi.

Hujan dan Lahar
Pada minggu ini terjadi hujan di beberapa Pos Pengamatan Gunung Merapi. Intensitas curah hujan tertinggi terjadi di Pos Ngepos pada tanggal 27 Oktober 2016, tercatat jumlah curah hujan 50 mm/jam selama 55 menit. Dilaporkan, pada tanggal 27 Oktober 2016 terjadi aliran lahar kecil di Kali Gendol pukul 12.20 WIB dan pukul 15.10 WIB, serta di Kali Woro pukul 15.00 WIB. Selain itu dilaporkan pula terjadi aliran lahar sedang pada alur Kali Bebeng pukul 16.00 yang menenggelamkan sembilan (9) unit truk.

II. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka aktivitas G. Merapi dinyatakan dalam status aktivitas “NORMAL”.

Saran
Dengan status aktivitas G. Merapi “NORMAL” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai berikut :
  • Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak G. Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki.
  • Saat ini hujan masih terjadi di seputar G. Merapi, untuk itu masyarakat perlu menjaga kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lahar.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

Demikian, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Yogyakarta, 31 Oktober 2016
a.n. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi,
BencanaGeologi,
Kepala BPPTKG
u.b
Kepala Seksi Gunung Merapi




Agus Budi Santoso
NIP. 19800827 200502 1 001


III. LAMPIRAN
(a)(b)(c)
Lampiran 1.Pengamatan visual melalui kamera Stasiun Deles (a), foto diambil pada tanggal 27 Oktober 2016 pukul 05.11 WIB, sedangkan sketsa (garis merah) didelineasi dari foto tanggal 3 September 2016 pukul 07.11 WIB. Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode seismik (b) dan deformasi (c) tiltmeter Stasiun Selokopo Atas, EDM Reflektor Kaliurang 2, dan baseline GPS Selo–Pasarbubar.