Penambahan stasiun seismik di Plawangan, untuk mendukung analisa gempa vulkanik Merapi.

Yogyakarta, BPPTKG. Saat ini terdapat 30 lokasi stasiun seismik yang digunaknan untuk memantau aktivitas kegempaan yang terjadi di Gunung Merapi, data dari stasiun seismik di lapangan di transmisikan melalui transmisi digital maupun analog ke kantor BPPTKG di Yogyakarta untuk dianalisa untuk mengetahui perilaku Merapi.
Pemasangan sistem transmisi di Stasiun Seismik Plawangan.

Lokasi stasiun sebelum dan sesudah pembersihanPada hari Kamis, 29 September 2016 sebanyak 16 personil yang terdiri dari staff teknis, pengamat gunung merapi dan masyarakat sekitar Kaliurang mendaki bukit Plawangan pada ketinggian 1255 m diatas permukaan laut. Tim yang diketuai Sulistiyani tersebut berangkat dari Pos Pengamatan Kaliurang pada pagi hari.
Anggota tim BPPTKG dan warga masyarakat sekitar.

Dari pantauan di lapangan barang-barang berupa sensor, radio UHF, antena, kabel, jerigen air, tower triangle, baterai 100 AH, panel surya, box dan toolset dibawa dari Kaliurang menuju calon lokasi stasiun seismik oleh tim dibantu warga masyarakat lokal. Kondisi jalur pendakian yang licin dan dipenuhi belukar mengharuskan setiap personil untuk waspada dalam melangkahkan kaki, karena tidaklah mudah membawa barang-barang yang berat dan berukuran besar untuk melalui jalur setapak.


Lokasi pemasangan sensor L4C Short Period
Seminggu sebelumnya sudah dilakukan survei calon lokasi stasiun oleh tim yang dipimpin Agus Budi Santoso selaku Kepala Seksi Gunung Merapi untuk menentukan lokasi ideal penempatan sensor seismik. Dalam sebuah wawancara di ruang kerja beliau disampaikan bahwa stasiun seismik Plawangan saat ini berada di bekas rumah alat Pos Pemantauan Plawangan memiliki sensibilitas yang lemah terhadap sinyal gempa dibandingkan dengan stasiun seiskmik yang lain terutama untuk rekaman gempa-gempa vulkanik sehingga diperlukan stasiun pendukung agar analisa data gempa vulkanik lebih optimal.

Di bukit Plawangan dahulu terdapat lokasi pemantauan yang di bangun pada jaman Hindia Belanda, lokasi pos temporer ini berfungsi untuk membantu pengamatan visual dari sektor selatan, terdapat tiga bangunan utama di lokasi ini yang posisinya berada tidak berjauhan. Bangunan pertama berfungsi sebagai pos pemantauan dan tempat beraktivitas bagi pengamat gunungapi lokasi ini berada pada ketinggian 1267 mdpl, dibangun pada tahun 1954 berbentuk bangunan berlantai dua dengan bahan dasar bangunan kayu. Bangunan yang kedua adalah rumah untuk menyimpan drum seismik dan kertas seismik, bangunan yang terdiri dari bangunan berdinding tembok dan kayu ini memiliki dimensi 5 x 10 m. Bangunan ketiga adalah bangunan berdinding tembok yang memiliki berukuran 2 x 2 m dan memiliki pondasi beton sedalam 3 m yang berfunsi untuk meletakkan alat pemantau gempa Weichert. Namun dari ketiga bangunan tersebut hanya tersisa dua bangunan yaitu bangunan kedua dan ketiga, sedangkan bangunan lainnya rusak karena letusan tahun 1994.

Upaya pengamanan stasiun dengan menutup akses masuk dan pemasangan papan peringatan.
Lokasi kegiatan instalasi stasiun seismik kali ini mengambil lokasi di bangunan ketiga yang berada pada posisi 7°35'4.76"S 110°25'51.70"T dengan elevasi 1235 mdpl. Kondisi tembok bangunan kotor oleh lumut dan atap yang penuh dengan tanaman serta endapan abu vulkanik mengharuskan tim melakukan pembersihan total.

Sensor yang dipasang menggunakan tipe L4C short period. Sinyal dari sensor berupa tegangan diubah menjadi sinyal audio oleh modulator, kemudian ditransmisikan menggunakan radio pemancar merk Icom V8. Antenna pemancar menggunakan type yagi 5 element memiliki range frekuensi kerja 160 -173 MHZ. Sistem power mandiri menggunakan baterai aki 100 Ah dengan pengisian dari panel surya sebanyak 4 buah dengan total kapasitas 200 Watt.
Disampaikan Agus Budi Santoso bahwa harapannya setelah dipasangnya stasiun seismik pendukung ini akan memudahkan analisa data kegempaan terutama dalam menentukan lokasi sumber gempa vulkanik. Disinggung mengenai aktivitas terkini Merapi paska munculnya gempa vulkanik sebanyak 6 kali kejadian pada minggu ketiga September beliau menyampaikan bahwa gempa vulkanik yang terjadi tidak diikuti dengan peningkatan parameter pemantauan lainnya, namun demikian menurut beliau sekecil apapun tanda-tanda aktivitas Merapi selalu menjadi perhatian dan dikaji detail oleh tim Seksi Gunung Merapi.

-nc-