Penyelidikan Geokimia Gunung Sumbing Tahun 2016

Gunung Sumbing merupakan gunung api strato tipe A. Gunung yang terletak di Jawa Tengah ini berada dalam wilayah Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purworejo. Puncaknya berketinggian 3371 m dpl. Secara geografis teretak pada 07°17,08' LS dan 110°03,8' BT. Karena bibir kawah sebelah timur laut telah hancur sehingga nampak seolah-olah sobek, maka disebut Gunung Sumbing, karena nampaknya seolah-olah seperti bibir sumbing.

Letusan dalam sejarah hanya tercatat satu kali yaitu tahun 1730 yang terjadi di kawah puncak, dimana terbentuk kubah lava dengan aliran lava ke arah bibir kawah terendah diperkirakan terjadi pada tahun tersebut (Junghuhn, 1853 dan Traverne, 1926). Penyelidikan geokimia oleh Tim BPPTKG ke Puncak Gunung Sumbing bulan Agustus 2016 yang lalu didapati adanya kawah dengan manifestasi solfatara dan fumarol yang cukup intensif, yang terletak pada koordinat S07°22'55" dan E110°04'24" ketinggian sekitar 3210 m dpl. yang disebut sebagai Kawah D.

Gambar 1: Kawah D di puncak Gunung Sumbing dan pengambilan contoh gas

Kawah D Gunung Sumbing memiliki luas sekitar 2000 m2. Pada Kawah D terdapat manifestasi vulkanik berupa solfatara dan fumarol. Kepulan asap solfatara dan fumarol ini keluar berderet dari utara ke selatan. Batuan yang ada di area kawah ini umumnya sudah lapuk karena proses alterasi (alterasi merupakan perubahan komposisi mineralogi batuan karena pengaruh suhu dan tekanan yang tinggi). Tanah di area Kawah D Gunung Sumbing sangat rapuh, sehingga pengambilan contoh gas dan air panas harus dilakukan dengan hati-hati. Kondisi tanah yang rapuh tersebut menyebabkan pengukuran dan pengambilan contoh gas tidak dapat dilakukan pada solfatara dengan aktivitas terbesar. Pengambilan contoh gas dilakukan pada fumarol dan bubble. Temperatur fumarol terukur 89,10c sedangkan bubble 85,30C pada temperatur udara 12,50C. Hasil analisis kimia contoh gas fumarol menunjukkan komposisi terbesar adalah H2O 95% mol, diikuti oleh gas CO2 4,67% mol, NH3 0,156% mol, H2S 0,121% mol, dan H2 0,002% mol. Sedangkan komposisi gas contoh bubble didominasi oleh CO2 92,77% mol, diikuti oleh NH3 3,16% mol, H2S 2,67% mol, H2 0,39% mol, dan HCl 0,005% mol.

Pengambilan contoh air di area kawah dilakukan pada air panas bubble Kawah D dan air dingin di Segara Wedi. Dari hasil analisis kimia dan isotop stabil air menunjukkan bahwa air panas yang disampling merupakan air meteorik yang melarutkan gas belerang dari solfatara dan mengalami fraksinasi melalui proses evaporasi yang terjadi secara terus-menerus sehingga dihasilkan pengkayaan isotop berat.

Gambar 2: Diagram segitiga SO42--Cl--HCO3-

Gambar 3: Diagram segitiga Na+-10K+-1000√Mg2+-

Gambar 4: Grafik Isotop Air Gunung Sumbing


oleh:
Harry Cahyono