Laporan Mingguan 9-15 September 2016

I. HASIL PENGAMATAN
Visual
Cuaca cerah terjadi pada pagi dan malam hari, sedangkan pada siang dan sore hari cuaca berkabut disertai mendung. Asap solfatara berwarna putih, tebal dengan tekanan gas lemah, tinggi maksimum 500 m arah vertikal, teramati dari Pos Pengamatan Selo pada tanggal 09 September 2016 pukul 06.35 WIB.

Kegempaan
Dalam minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat gempa guguran 11 kali dan gempa tektonik 9 kali. Aktivitas kegempaan minggu ini berada dalam kategori normal. Lampiran 1a menunjukkan grafik kegempaan di G. Merapi.

Deformasi
Pengukuran EDM menghasilkan nilai jarak tunjam rata-rata untuk RK2 (sektor selatan) sebesar 6506,949 m dan RB2 (sektor barat) sebesar 3859,131 m, relatif sama seperti minggu-minggu sebelumnya (Lampiran 1b). Data tiltmeter yang diperoleh dari Stasiun Babadan masih fluktuatif dalam batas toleransi alat (Lampiran 1c), sumbu S–U sebesar 0,384215° dan untuk sumbu B–T -0,02714°. Data pemantauan GPS Stasiun Pos Jrakah menunjukkan nilai perubahan posisi rata-rata untuk sumbu horizontal B–T 0,002 m, sumbu U–S sebesar 0,006 m dan rata-rata sumbu vertikal Z sebesar 0,000 m.

Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan tiltmeter, EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

Hujan dan Lahar
Pada minggu ini terjadi hujan di beberapa Pos Pengamatan Gunung Merapi. Intensitas curah hujan tertinggi terjadi di Pos Ngepos pada tanggal 15 September 2016, tercatat jumlah curah hujan 73 mm selama 205 menit. Tidak dilaporkan adanya penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi.

II. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka aktivitas G. Merapi dinyatakan dalam status aktivitas “NORMAL”.

Saran
Dengan status aktivitas G. Merapi “NORMAL” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai berikut :

  1. Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak G. Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki.
  2. Saat ini hujan masih terjadi di seputar G. Merapi, untuk itu masyarakat perlu menjaga kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lahar.
  3. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

Demikian, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Yogyakarta, 16 September 2016
a.n. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi,
Bencana Geologi,
Kepala BPPTKG
u.b
Kepla Seksi Gunung Merapi




Agus Budi Santoso
NIP. 19800827 200502 1 001


III. LAMPIRAN


Lampiran 1. Grafik data pemantauan G. Merapi menggunakan metode Seismik (a), EDM (b) Januari 2011 – September 2016 dan Tiltmeter (c) Oktober 2014 – September 2016.