Optimalisasi Stasiun Puncak, Perawatan Stasiun Multigas dan Observasi Menggunakan kamera Thermal-DSLR Untuk Mengetahui Kondisi Terakhir Kawah G. Merapi

Latar Belakang
Peristiwa letusan G. Merapi yang terjadi pada tanggal 18 November 2013 sedikit banyak membawa pengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat yang tinggal di seputar G. Merapi khususnya masyarakat yang tinggal di KRB III G. Merapi. Secara  kronologi, terjadinya letusan 18 November 2013 yang lalu secara visual teramati  kolom asap setinggi 2 km, berwarna coklat kehitaman, condong ke arah Timur. Suara gemuruh terdengar dari Pos Babadan (Kabupaten Magelang), Pos Jrakah, Pos Selo dan di  Desa Tlogolele (Kabupaten Boyolali) dalam jarak 7 km dari puncak G. Merapi.

Aktivitas gunung Merapi di tahun 2016 kembali memberikan tanda dari pengamatan visual berupa teramatinya api diam di sisi barat, tepatnya di bawah kawah 1948 (gambar 1). Walaupun api diam ini juga pernah teramati pada tahun-tahun sebelumnya, namun kewaspadaan menyangkut monitoring gunung Merapi harus ditingkatkan, terlebih dengan belum ditemukannya precursor letusan pasca letusan tahun 2010.

Gambar 1. Api diam yang teramati dari cctv pada tanggal 8 Juni 2016
Maksud dan Tujuan
Maksud dari kegiatan ini adalah melakukan optimalisasi stasiun puncak dengan menggati filter alat multigas dan kegiatan observasi menggunakan kamera thermal,DSLR  untuk mengetahui kondisi terkini kawah G. Merapi. Tujuan dilakukannya pekerjaan ini adalah agar alat pemantauan multigas beroperasi dengan optimal dan data visual dapat diinterpretasi dengan baik.

Metode Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan kegiatan ini, tim memakai metoda dan tahapan pelaksanaan untuk mencapai tujuan akhir pekerjaan yaitu:
  1. Persiapan bahan dan peralatan untuk keperluan observasi
  2. Perawatan alat Stasiun Multigas
  3. Observasi di Puncak dengan kamera thermal
  4. Observasi di Puncak menggunakan kamera DSLR
  5. Observasi di Puncak berdasarkan pengamatan visual langsung di lapangan
  6. Evaluasi hasil

Pelaksana Kegiatan
Tim pelaksana kegiatan ini terdiri dari empat personil yaitu
  1. Raditya Putra
  2. Heru Suparwaka
  3. Tri Mujianta
  4. Suratno

Observasi Kondisi Puncak G. Merapi
Untuk memantau kondisi morfologi puncak dan kawah gunung Merapi terkini maka dilakukan kegiatan observasi lapangan, hal ini dilatar-belakangi kondisi kawah Merapi yang teramati adanya bara api pada tanggal 8 Juni 2016. Morfologi kawah dipantau menggunakan kamera DSLR pada pukul 04.52 WIB dini hari dimana sinar matahari masih belum menyinari kawah(gambar 1.). Dari pengambilan foto diketahui bahwa bara api yang teramati pada tanggal 8 Juni 2017 sudah tidak tampak lagi (gambar 2), yang nampak pada gambar foto hanya kepulan asap solfatara berwarna putih dan tebal. Asap solfatara paling banyak keluar pada rekahan yang terbentuk paska letusan tanggal 18 November 2013.

Gambar 2.  Morfologi kawah diamati menggunakan kamera DSLR pada pukul 04.52 WIB dini hari dimana sinar matahari belum menerangi sisi dalam kawah

Gambar3. Tidak Nampak adanya bara api yang muncul disekitar kawah

Gambar 4. (a). Pemeriksaan peralatan sensor di puncak (b).bunker rumah alat kondis sebelum perbaikan. (c). alat penakar yang rusak (d). Mengganti alat penangkal yang rusak dan saluran kabelnya (e). merapikan kondisi di dalam rumah alat. (f). kondisi stasiun setelah dilakukan perbaikan.


Sedangkan foto yang diambil pada pukul 06.00 WIB menunjukan bahwa lubang yang berada dibawah tebing kawah 1948 tidak menunjukan adanya kepulan asap, namun disekitar daerah ini tingkat alterasinya cukup tinggi ditunjukkan dengan dinding-dinding sekitarnya menjadi berwarna putih kekuningan (gambar 3) lubang ini terisi oleh pasir dan kerikil yang berasal dari reruntuhan material-materia dinding (bukan material hasil letusan). Semakin pagi bara api semakin tidak terlihat, morfologi kawah disekitar celah didominiasi oleh kepulan asap solfatara (gambar 4).

Gambar 5. Lubang dibawah tebing lava 1948, tidak menunjukan adanya kepulan asap

Gambar 6. Semakin pagi pukul 06.00 wib bara api semakin tidak terlihat, morfologi kawah disekitar celah didominiasi oleh kepulan asap solfatara.

Pengukuran suhu kawah dilakukan dengan kamera thermal Fluke seri  Ti32 pada pukul 04.47 WIB dari pengambilan suhu kawah ini bagian terpanas dari lubang dibawah dinding lava 1948 memiliki suhu sebesar 80,480 C (gambar 5). suhu yang hasi pengukuranya berkisar 80-an derajat celcius didalam kawah termasuk suhu normal yang menunjukan belum adanya manifestasi panas.

Gambar 7. Suhu lubang di bawah tebih kawah 1948 yang terukur maksimal sebesar  80,48'C menggunakan kamera thermal fluke Ti32

Sedangkan suhu didalam kawah terekam maksimum sebesar 342'C yang terletak di blok barat dinding kawah, daerah ini mengalami alterasi yang cukup kuat dimana dindningnya sudah berwarna putih kekuningan dan dibeberapa tempat dinding berwarna kemerahan karena proses oksidasi. Sumber panas pada blok barat dinding kawah gunung Merapi ini mengeluarkan kepulan asap solfatara yang berwarna putih dan tebal.

Gambar 8 dan 9. Suhu tertinggi di kawah G. Merapi sebesar 342'C yang terukur di blok lava sisi barat

salah satu sumber tekanan asap solfatara yang berada di selatan bukaan kawah memiliki suhu cukup tinggi pula, suhu yang terukur mencapai 204,37'C, akibatnya tekanan yang dihasilkan sangat kuat dan tebal hingga membentuk turbulensi (gambar 7). Penggambilan suhu termal ini dilakukan pada pukul 04.40 WIB, kendati sumber asap ini memiliki suhu dan tekanan tinggi, namun ketika diambil pada dini hari (sebelum matahari terbit) tidak juga terdapat bara api yang tertangkap oleh kamera DSLR.

Gambar 10. sumber tekanan asap solfatara yang berada di selatan bukaan kawah memiliki suhu cukup tinggi pula, suhu yang terukur mencapai 204,37'C.

Kesimpulan
  1. Suhu tertinggi didalam kawah adalah 342'C yang terletak di blok barat dinding kawah.
  2. Sinar Bara Api tidak terlihat di lubang sisi bawah lava 1948 dan suhunya hanya 80,48 Derajat Celsius.
  3. Salah satu sumber asap solfatara yang berada di sebelah selatan kubah lava, memiliki suhu tinggi (204'C) dan tekanan kuat (adanya turbulensi).
  4. Optimalisasi stasiun multigas puncak G. Merapi telah selesai dilaksanakan. Pekerjaan yang dilakukan di stasiun seismic ini adalah pemeliharaan sensor multigas, pembersihan solar panel, pemeriksaan regulator solar panel. Selain itu juga dilakukan kegiatan membersihkan lingkungan di sekitar stasiun.
  5. Adapun penggantian komponen yang dilakukan yaitu : alat penakar  dan kabel multigas. Dengan dilakukan perbaikan dan perawatan ini kondis alat sudah dapat berfungsi dengan baik lagi.