Buku petunjuk   E-PUPNS BKN

Dari 129 gunungapi yang ada di wilayah Indonesia Gunung Merapi termasuk yang paling aktif. Merapi adalah gunungapi dengan tipe Strato-volcano dan secara petrologi magma Merapi bersifat andesit-basaltik. Menjulang setinggi 2978 m di jantung pulau Jawa, Merapi mempunyai diameter 28 km, luas 300-400 km2 dan volume 150 km3. Posisi geografis Merapi 7o 32’ 5" S ; longitude 110o 26’5" E. mencakup wilayah administratif Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Merapi terbentuk secara geodinamik pada busur kepulauan akibat subduksi pertemuan lempeng Indo-australia dengan lempeng Asia. Dinamika erupsi Merapi umumnya didahului pertumbuhan kubah lava diikuti guguran awanpanas, guguran lava pijar dan jatuhan piroklastik. Bahaya utama yang mengancam sekitar 40.000 jiwa yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana adalah Pyroclastic Flow atau aliran awanpanas di samping bahaya sekunder lahar yang dapat terjadi pada musim hujan. Erupsi Merapi termasuk sering dalam 100 tahun terakhir ini rata-rata terjadi sekali erupsi dalam 2-5 tahun. Di luar ancaman bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi, Merapi memiliki aspek sosial dan ekonomis yang penting bagi kemajuan wilayah sekitarnya. Material erupsi Merapi seperti pasir dan batu menjadi penunjang pembangunan di Yogyakarta dan Jawa Tengah demikian juga halnya dengan produk pertanian yang dihasilkan di lereng Merapi dan majunya perkembangan wisata yang mendukung tumbuhnya ekonomi setempat.

Laporan Aktifitas Merapi Tanggal 17 - 23 Juni 2016 29/06/2016 09:23:34

normal
waspada
siaga
awas
pasar bubar merbabu

 
AKTIVITAS GUNUNG MERAPI


Gunungapi Indonesia




Peta KRB Merapi 2010



 • Laporan Mingguan


• Laporan Bulanan


• Informasi Umum


• Sejarah


• Mitigasi


• Pemantauan


• Pendakian



 

 


LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
Tanggal 17-23 Juni 2016

 

I. HASIL PENGAMATAN

Visual 

Cuaca cerah terjadi pada waktu pagi dan malam hari, sedangkan pada siang dan sore hari berkabut disertai mendung. Asap solfatara berwarna putih, tebal dengan tekanan gas lemah, tinggi maksimum 300 m, arah condong ke barat daya teramati dari Pos Pengamatan Babadan pada tanggal 20 Juni 2016 pukul 8.30 WIB.

Kegempaan

Dalam minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat data gempa guguran sebanyak 9 kali, gempa tektonik 6 kali dan vulkanik 1 kali. Gempa vulkanik yang terjadi beramplitudo maksimum 45 mm dengan durasi 15 detik. Aktivitas kegempaan minggu ini dalam kategori normal. Lampiran 1 menunjukkan grafik kegempaan di G. Merapi.

Deformasi   

Data Tiltmeter yang diperoleh dari stasiun Babadan dalam beberapa minggu terakhir ini belum menunjukkan adanya perubahan nilai tren kemiringan, perubahan nilai yang terjadi masih fluktuatif dalam batas toleransi alat.  Pengukuran EDM menghasilkan nilai jarak tunjam rata-rata untuk RK2 (sektor Selatan) sebesar 6506,941 m dan RB 1 (sektor barat) sebesar 4044,855 m, relatif sama seperti minggu - minggu sebelumnya (Lampiran 1b). Untuk sumbu S-U sebesar -0.026191° dan untuk sumbu B-T 0.38526°(Lampiran1c). Data pemantauan GPS Stasiun Pos Jrakah menunjukkan nilai perubahan posisi rata-rata untuk sumbu B-T 0.118 m dan sumbu U-S sebesar 0.021 m dan rata-rata sumbu Z sebesar 0.011 m, tidak menunjukkan perubahan posisi yang signifikan.

Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan Tiltmeter, EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

 
Hujan dan Laharan
 
Intensitas curah hujan tertinggi sebesar 37 mm/jam selama 50 menit terjadi pada tanggal 19 Juni 2016, pada pikul 05.40-06.30 WIB terjadi di Pos Ngepos, dalam kejadian tersebut tidak terjadi lahar.
 

Morfologi dan Suhu Kawah
 
Sedangkan suhu didalam kawah terekam maksimum sebesar 342o C  (lampiran  2) yang terletak di blok barat dinding kawah, daerah ini mengalami alterasi yang cukup kuat dimana dindingnya sudah berwarna putih kekuningan dan dibeberapa tempat dinding berwarna kemerahan karena proses oksidasi. Sumber panas pada blok barat dinding kawah gunung Merapi ini mengeluarkan kepulan asap solfatara yang berwarna putih dan tebal (lampiran 3). 

 
II. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil evaluasi data pemantauan G. Merapi secara instrumental dan visual, disimpulkan bahwa aktivitas G. Merapi dalam status “NORMAL”.

Rekomendasi :
    Dengan status aktivitas Gunung Merapi “NORMAL” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana Gunung Merapi direkomendasikan sebagai berikut :

  1. Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak G. Merapi saat ini rawan terjadi longsor sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki
  2. Fungsi alat-alat pemantauan aktivitas G. Merapi sangat penting didalam memberikan informasi aktivitas vulkanik dan upaya peringatan dini untuk keselamatan nyawa manusia, menjaga fungsi dan keberadaanya adalah kewajiban dan tanggung jawab setiap individu yang berada di G. Merapi.
  3. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali

Demikian  kami sampaikan, atas perhatian dan kejasamanya diucapkan terima kasih.

 

Yogyakarta, 24 Juni 2016

a.n.  Kepala Pusat Vulkanlogi dan Mitigasi Bencana Geologi

Kepala BPPTKG

 

 

 

I Gusti Made Agung Nandaka
NIP. 196412271993031005

 

 

III.    LEMBAR LAMPIRAN

 

  

Lampiran 1. Grafik data pemantauan G. Merapi  menggunakan metode Seismik (a), EDM (b) dari Januari 2011- April 2016  dan Tiltmeter (c). dari Oktober  2014 – Juni 2016.

 

Lampiran 2. Suhu tertinggi di kawah G. Merapi sebesar 342C yang terukur di blok lava sisi barat

 

Lampiran 3. Semakin pagi pukul 06.00 wib bara api semakin tidak terlihat, morfologi kawah disekitar celah didominiasi oleh kepulan asap solfatara.