IMG_0006

IMG_0006

Dari 129 gunungapi yang ada di wilayah Indonesia Gunung Merapi termasuk yang paling aktif. Merapi adalah gunungapi dengan tipe Strato-volcano dan secara petrologi magma Merapi bersifat andesit-basaltik. Menjulang setinggi 2978 m di jantung pulau Jawa, Merapi mempunyai diameter 28 km, luas 300-400 km2 dan volume 150 km3. Posisi geografis Merapi 7o 32’ 5" S ; longitude 110o 26’5" E. mencakup wilayah administratif Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Merapi terbentuk secara geodinamik pada busur kepulauan akibat subduksi pertemuan lempeng Indo-australia dengan lempeng Asia. Dinamika erupsi Merapi umumnya didahului pertumbuhan kubah lava diikuti guguran awanpanas, guguran lava pijar dan jatuhan piroklastik. Bahaya utama yang mengancam sekitar 40.000 jiwa yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana adalah Pyroclastic Flow atau aliran awanpanas di samping bahaya sekunder lahar yang dapat terjadi pada musim hujan. Erupsi Merapi termasuk sering dalam 100 tahun terakhir ini rata-rata terjadi sekali erupsi dalam 2-5 tahun. Di luar ancaman bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi, Merapi memiliki aspek sosial dan ekonomis yang penting bagi kemajuan wilayah sekitarnya. Material erupsi Merapi seperti pasir dan batu menjadi penunjang pembangunan di Yogyakarta dan Jawa Tengah demikian juga halnya dengan produk pertanian yang dihasilkan di lereng Merapi dan majunya perkembangan wisata yang mendukung tumbuhnya ekonomi setempat.

11 – 17 Juli 2014 19/07/2014 06:04:51

normal
waspada
siaga
awas
deles kali boyong

 
AKTIVITAS GUNUNG MERAPI


Gunungapi Indonesia




Peta KRB Merapi 2010



 • Laporan Mingguan


• Laporan Bulanan


• Informasi Umum


• Sejarah


• Mitigasi


• Pemantauan


• Pendakian



 

 LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
Tanggal 11 – 17 Juli 2014

I. HASIL PENGAMATAN

Visual 

 Secara umum, G. Merapi teramati cuaca cerah pada pagi dan malam hari, sedangkan pada siang hingga sore hari secara visual dominan mendung dan berkabut dan hanya sesekali saja tampak cerah. Asap solfatara teramati berwarna putih tipis, sedang hingga tebal, dominan tebal, tekanan lemah, tinggi maximum 300 meter condong ke utara di ukur dari pos Selo pada tanggal 13 Juli 2014 pukul 06.10 WIB. Pada tanggal 14 Juli 2014 pukul 12.05 WIB, di BPPTKG dan semua Pos Pengamatan G. Merapi melaporkan adanya gempa terasa, durasi sekitar 8 detik dengan arah Utara-Selatan. Suhu udara di pos-pos pengamatan G. Merapi berkisar antara 15 – 28 °C, kelembaban 74 – 99 % Rh, kecepatan angin maksimum 35,6 km/jam, dan arah angin dominan menuju Barat.


                                                            Tabel 1. Data meteorologi di Sekitar Pos Pengamatan G. Merapi

 
 
Gambar 1. Morfologi puncak G. Merapi dari Sisi Utara belum menunjukan adanya perubahan yang signifikan (Foto dari Pos Selo 17 Juli 2014). 

Seismik

 Kegempaan di G. Merapi didominasi oleh adanya gempa guguran. Gempa guguran tercatat sebanyak 57 kali (Amplitudo maksimum 55 mm dan durasi 25 detik), dan MP 26 kali (Amplitudo maksimum 30 mm dan durasi 11 detik). Gempa tektonik tercatat 6 kali, gempa tektonik terasa terjadi 1 kali pada tanggal 14 Juli 2014 pukul 12.06 WIB. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 9,06°LS dan 112,24°BT, dengan magnitudo 5,6 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 104 km Tenggara Pacitan, Jawa Timur. Secara umum aktivitas kegempaan berfluktuasi tetapi masih dalam batas normal.
 
 
Gambar 2. Kegempaan G. Merapi bulan Januari  2013 – Juli 2014.
 
Deformasi   

  Hasil pengukuiran deformasi EDM dari Pos Kaliurang (RK2) fluktuatif antara 0 mm sampai dengan -12 mm (2,5 mm/hari). Reflektor Babadan (RB3) dan Reflektor Jrakah (RJ2) tidak terukur pada minggu ini. Pengukuran jarak reflektor Babadan (RB1) bervariasi antara -17 mm sampai dengan +13 mm (0,5 mm/hari). Reflektor Babadan (RB2) bervariasi antara -5 mm sampai dengan +6 mm (0,1 mm/hari).  Pengukuran jarak reflektor bervariasi di bawah 1 cm (di bawah ralat pengukuran). Deformasi tubuh G. Merapi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

 
Gambar 3.  Hasil pengukuran EDM dari Pos Jrakah, Babadan dan Kaliurang pada Januari 2013-Juli 201
 

  Pada minggu ini, data pemantauan deformasi menggunakan tiltmeter di Stasiun Plawangan menunjukkan adanya perubahan kemiringan sumbu-X (arah Barat-Timur) 0,2 mikro radian dan sumbu -Y (arah Utara-Selatan) tetap ( 0,0 mikro radian) dan suhu alat rata-rata 18,33 °C. Tiltmeter di Stasiun Babadan menunjukkan adanya perubahan yang berarti, kemiringan pada sumbu -X (arah Utara-Selatan) memiliki perubahan kemiringan  -0,5 mikro radian dan sumbu -Y (arah Barat-Timur) +0,5 mikro radian, sedangkan suhu alat rata-rata 19,10 °C. Pola kemiringan yang tidak gradual pada sumbu –X kemungkinan akibat gangguan alat. Secara umum data deformasi belum menunjukkan adanya inflasi.

 

 

  Gambar 4. Hasil pengukurantiltmeter stasiun Plawangan Januari 2013 – Juli 2014, sumbu-X (arah Barat-Timur) dan sumbu-Y (arah Utara - Selatan).

 
  Gambar 5. Hasil pengukuran tiltmeter stasiun Babadan Januari 2013 – Juli 2014, sumbu-X (arah Utara - Selatan) dan sumbu-Y (arah Barat-Timur).
 
 
Hujan dan Lahar
 
Pada minggu ini hujan sering terjadi, intensitas curah hujan tertinggi di sekitar G. Merapi sebesar 17 mm/jam selama 55 menit, terjadi di Pos Ngepos pada tanggal 6 Juli 2014. Lahar tidak terjadi di semua sungai yang berhulu di puncak G. Merapi.
 
 
 Gambar  6. Grafik hasil pengukuran curah hujan di pos-pos pengamatan Selo, Jrakah, Babadan, Ngepos dan Kaliurang pada Januari 2013 hingga Juli 2014.
 
 
II. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil evaluasi data pemantauan Gunung Merapi secara instrumental dan visual, disimpulkan bahwa aktivitas Gunung Merapi dalam status NORMAL.

Rekomendasi :
    Dengan status aktivitas Gunung Merapi “NORMAL” kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana Gunung Merapi direkomendasikan sebagai berikut :

  1. Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara direkomendasikan hingga sampai Pasar Bubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  2. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.
  3. Masyarakat agar tidak terpancing  isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192
  4. Pemerintah daerah disarankan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

Demikian  kami sampaikan, atas perhatian dan kejasamanya, kami ucapkan terima kasih.